blog-indonesia.com
Tampilkan postingan dengan label perkembangan Peserta Didik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perkembangan Peserta Didik. Tampilkan semua postingan

23 Nov 2009

KEBUTUHAN SOSIAL PSIKOLOGIS REMAJA (LANJUTAN)

A. Pengaruh Kebutuhan Yang Tidak Terpenuhi Terhadap Tingkah Laku Remaja

Herdy dan Kugelmann berpendapat bahwa apabila kebutuhan remaja itu tidak terpenuhi akan timbul perasaan kecewa atau frustasi. Aturan sekolah yang pilih kasih atau membedakan penerapan aturan itu atas dasar pertimbangan tertentu saja yang tidak adil akan menimbulkan kekecewaan besar bagi siswa.
Perasaan konflik dan kecewa dapat dipastikan terjadi pada siswa remaja yang berupaya untuk mencapai dua tujuan yang bertentangan. Misalnya remaja yang berperilaku preman dengan tujuan ditakuti kelompoknya dan sekaligus bersikap terpelajar dengan tujuan dihormati akan menemui kesulitan dalam hidupnya. Begitu juga bagi siswa yang memasuki dua kelompok sebaya yang sangat berbeda perilaku. Remaja itu akan mengalami kebingungan memilih nilai atau filsafat hidup yang akan dianutnya.
Seringkali standar moral seseorang telah terbentuk sejak masa kecil bertentangan dengan pola tingkah laku guru atau teman sebaya disekolah setelah ia remaja. Sejak dari kecil ia telah diajar bahwa berbicara kasar, merokok, menghardik, dan mencaci maki itu pebuatan yang salah, namun disekolah atau setelah ia remaja, seolah-olah dituntut teman sebaya untuk melakukan perbuataan tersebut, karena itulah yang dianggap benar. Situasi seperti itu menimbulkan konflik dan perasaan bersalah yang berlebihan sehingga dapat menjadikan minat belajar siswa menurun.
Blair & Stewar (1964), mengemukakan bahwa siswa remaja yang kebutuhan-kebutuhannya tidak terpenuhi dapat melakukan tingkah laku mempertahankan diri seperti tingkah laku agresif, kompensasi, identifikasi, rasionalisasi, proyeksi, pembentukan reaksi, egosentris, menarik diri, dan gangguan pertumbuhan fisik. Implikasinya dalam bidanh akademis, guru tidak patut memberikan nilai rendah kepada siswanya. Guru baru memberi nilai jika siswanya benar-benar telah menguasai materi pelajaran. Oleh karena itu, proses pembelajaran siswa haruslah melayani perbedaan individual siswa remaja.

B. Usaha-Usaha Yang Dapat Dilakukan Guru Untuk Memenuhi Kebutuhan Remaja

Lingkungan keluarga dan guru / sekolah mempunyai peranan penting dalam mengarahkan sikap dan perilaku untuk memenuhi kebutuhannya. Oleh karena itu, pihak-pihak tersebut perlu melakukan berbagai usaha membantu memenuhi kebutuhan remaja, agar tidak menimbulkan kesulitan atau berbagai permasalahan bagi siswa.
Usaha yang dapat dilakukan untuk membantu memenuhi kebutuhan remaja :
1. Meningkatkan iman dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, melalui ceramah keagamaan dan kegiatan kerohanian lainnya.
Perkembangan Intelektual



A. Pengertian intelektual
Beberapa definisi intelektual menurut para ahli, diantaranya :
1. Intelektual merupakan suatu kumpulan kemampuan seseorang untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan mengamalkannya dalam hubungannya dengan lingkungan dan masalah-masalah yang timbul (Gunarsa, 1991).
2. Pengertian intelektual menurut Cattel (dalam Clark, 1983) adalah kombinasi sifat-sifat manusia yang terlihat dalam kemampuan memahami hubungan yang lebih kompleks, semua proses berfikir abstrak, menyesuaikan diri dalam pemecahan masalah dan kemampuan memperoleh kemampuan baru.
3. David Wechsler (dalam Saifuddin Azwar, 1996) mendefinisikan intelektual sebagai kumpulan atau totalitas kemampuan seseorang untuk bertindak dengan tujuan tertentu, berpikir secara rasional, serta menghadapi lingkungan secara efektif.

Jadi, intelektual adalah kemampuan untuk memperoleh berbagai informasi berfikir abstrak, menalar, serta bertindak secara efisien dan efektif.

B. Perkembangan Tingkat Kecerdasan Terhadap Keberhasilan Belajar

Prestasi belajar merupakan suatu objek yang sering menjadi pusat perhatian baik bagi guru maupun orang tua. Prestasi belajar mempunyai kaitan yang erat dengan intelegensi (intelektual). Sejumlah faktor berpengaruh terhadap prestasi belajar peserta didik, yaitu :
 Faktor internal yang mencakup fisik; kondisi panca indera, fisik umumnya, dan psikologis, meliputi :
(a) variable nonkognitif; minat, motivasi, dan kepribadian;
(b) kemampuan kognitif; kemampuan khusus (bakat) dan kemampuan umum (intelegensi).
 Faktor eksternal yang mencakup :
(a) fisik  kondisi tempat belajar, sarana, dan prasarana belajar, materi pelajaran, dan suasana lingkungan belajar,
(b) sosial  dukungan sosial dan pengaruh budaya.

Faktor intelegensi merupakan faktor yang cukup signifikan mempengaruhi prastasi belajar. Menurut Anastasi dan Willerman (dalam Sobani Irfan, 1986) menyatakan bahwa : dalam setiap kegiatan yang menuntut prestasi, baik itu prestasi belajar, prestasi kerja, olahraga, seni, dan sebagainya intelegensi memegang perana yang sangat penting.

C. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Intelektual

Menurut Ngalim Purwanto (1986) factor-faktor yang mempengaruhi perkembangan intelektual antara lain :
1. Faktor Pembawaan (Genetik)

PERKEMBANGAN INTELEKTUAL lanjutan

PERKEMBANGAN INTELEKTUAL lanjutan

A. Klasifikasi Intelegensi
Pada periode remaja intelegensi berkembang semakin berkualitas dengan bertambahnya kemampaun remaja untuk menganalisisdan memikirkan hal-hal yang abstrak, akibatnya remaja makin kritis dan dapat berfikir dengan baik.Pikiran remaja sering dipengaruhi oleh teori-teori dan ide sehingga menimbulkan sikap kritis terhadap lingkungan.
Pendapat orang tua sering dibanding-bandingkan dengan teori yang diinternalisasi remaja, akibatnya sering terjadi pertentangan antara sikap kritis remaja dan aturan-aturan, adapt istiadat, kebiasaan dan norma-norma yang berlaku dilingkungan keluarga maupun dilingkungan masyarakat.
Sebagai akibat remaja telah mampu berpikir secara abstrak dan hipotesis, maka pola pikir remaja menunjukkan kekhususan sebagai berikut :
Timbul kesadaran berpikir tentang berbagai kemungkinan tentang dirinya.
Mulai memikirkan bayangan tentang dirinya pada masa yang akan dating.
Mampu memahami norma dan nilai-nilai yang berlaku dilingkungan.
Bersifat kritis terhadap berbagai masalah yang dihadapi.
Mampu menggunakan teori-teori dan ilmu pengetahuan yang dimiliki.
Dapat mengasimilasikan fakta-fakta baru dan fakta-fakta lainya.
Dapat membedakan mana yang penting dan mana yang tidak penting.
Mampu mengambil manfaat dari pengalaman.
Makin berkembangnya rasa toleransiterhadap orang lain yang berbeda pendapat.
Mulai mampu berfikir tentang masalah yang mulai konkrit, seperti pemilihan pekerjaan, kelanjutan studi dan perkawinan.
Mulai memiliki pertimbangan-pertimbangan yang rasional.

Taraf kecerdasan masing-masing individu tidak sama, ada yang rendah, sedang dan ada yang tergolong tinggi. Perbedaan itu telah ada sejak lahir, namun perkembangan selanjutnya dipengaruhi oleh lingkungan.
B. Usaha Guru dan Orang Tua Membantu Perkembangan Intelektual Remaja
Sebagai mana telah dikemukakan sebelumnya, bahwa potensi intelektual tidak dapat berkembang dengan sempurna tanpa mendapatkan perlakuan dari lingkungan. Oleh karena itu keluarga dan sekolah mempunyai peran yang sangat penting dalam mengembangkan kecerdasan anak. Yang dapat dilakukan antara lain :
 Dalam proses belajar mengajar hendaknya orang tua atau guru lebih mengutamakan proses dari pada hasil. Misalkan dalam memberikan pertanyaan kepada peserta didik tidak mengutamakan betul atau salah jawabannya semata, tetapi yang lebih penting dihargai adalah keberaniaanya untuk mengemukakan pendapat.
 Menggunakan metode pembelajaran yang dapat megembangkan kemampaun berfikir. Misalnya metode penemuan (inquiri), diskusi dan sejenisnya.
 Guru membantu siswa dalam konsep-konsep yang bersifat abstrak.
 Menyediakan fasilitas yang memadai untuk menumbuh kembangkan taraf kecerdasan anak, misalnya bahan bacaan, peralatan labor, permanian dan sebagainya.
 Memberikan tugas sekolah dengan berbagai macam metode yang dapat meransang dan mengembangkan daya piker.

Sumber:
Mudjiran, Dkk.2007. Perkembangan Peserta Didik. Padang: UNP

KREATIVITAS

KREATIVITAS
A. PENGERTIAN KREATIVITAS
Kreativitas merupakan suatu potensi yang telah ada sejak anak dilahirkan, namun potensi tersebut tidak akan berkembang secara optimal apabila tidak mendapatkan pendidikan dan latihan dari lingkungannya. Hal tersebut sesuai dengan pendapat para ahli, yaitu :
 Guilford (1967) menyatakan bahwa intelegensi berkaitan dengan kemampuan berpikir konvergen, sedangkan kreativitas adalah berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk berpikir divergen.
 Utami Munandar menjelaskan bahwa kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk menciptakan produk-produk baru, meskipun komponen-komponennya tidak semuanya baru.

Produk dari pemikiran kreatif itu antara lain mengandung ciri-ciri adanya :
o Kelancaran (fluency), yaitu mengandung banyak ide / pemikiran dan bersifat luas.
o Keluwesan (flexibility) dapat diterapkan dalam memecahkan berbagai persoalan.
o Keaslian (originality) bukan meniru bersifat khas dan unik.
o Elaborasi (elaboration) merupakan penyempurnaan terhadap hal-hal yang sebelumnya telah ada sehingga dapat lebih praktis, berdaya guna, dan menimbulkan kemudahan-kemudahan untuk melakukan sesuatu.

Potensi kreatif berkembang melalui beberapa tahap sebagai berikut :
1. Tahap persiapan (preparation), yaitu mulai dengan mempelajari latar belakang masalah yang dihadapi.
2. Tahap konsentrasi (concentration), yaitu berpikir sepenuhnya tentang masalah tersebut.
3. Tahap inkubasi (incubation), yaitu istirahat untuk penenangan dengan cara santai sejenak.
4. Ilumination (illumination), yaitu tahap “AHA” pada saat itu mendapatkan suatu ide / gagasan tentang pemecahan masalah yang dihadapi tadi.
5. Ferifikasi / Produksi (Verivication / production), yaitu tahap terakhir mulai memecahkan masalah tersebut dan merealisasikan dalam bentuk ide-ide.
D. CIRI ORANG / REMAJA KREATIF
Individu yang memiliki potensi kreativitas tinggi menunjukkan sikap dan perilaku yang kadang-kadang tidak dimiliki oleh kebanyakan orang. Kekhasan perilaku kreatif digambarkan oleh beberapa ahli berikut ini :
1. Menurut Rogers (dalam Utami Munandar, 2004) ada tiga kondisi diri pribadi kreatif, yaitu :
 Keterbukaan terhadap pengalaman
 Kemampuan untuk menilai situasi sesuai dengan patokan pribadi seseorang (internal locus of evaluation), dan
 Kemampuan untuk bereksperimen, untuk bermain dengan konsep-konsep.
2. Para ahli lain seperti Torrance dan Dembo (1979); Utami Munandar (2004); Conny Semiawan (1984); Cohen (1976); Siegelman (1973) mengemukakan beberapa ciri orang kreatif antara lain :
 Suka humor, tidak kaku, dan tidak tegang dalam bekerja,
 Suka pada pekerjaan yang menantang,
 Cukup kuat memusatkan perhatian,
 Suka mengemukakan ide-ide baru dan bersifat imajinatif,
 Lebih sensitif terhadap keadaan orang lain,
 Tidak banyak terikat pada kelompoknya,
 Mampu memunculkan ide-ide yang aneh,
 Terbuka terhadap ide / penemuan baru,
 Fleksibel / tidak kaku, serta
 Memiliki konsep diri positif.



Berikut ini Mangunhardjono (1986) mengemukakan beberapa ciri-ciri kehidupan keluarga yang dapat melahirkan anak kreatif, yaitu :
 Menghargai anak sebagai pribadi,
 Memberikan contoh tingkah laku kreatif,
 Menaruh perhatian pada pengembangan bakat anak,
 Memiliki patokan etis yang jelas, seperti :
a. Kejujuran
b. Penghargaan pada mutu pekerjaan
c. Memiliki keingintahuan secara intelektual
d. Memiliki ambisi yang sehat
▪ Kurang khawatir terhadap aktivitas yang dilakukan anak,
▪ Keluarga yang sering berpindah-pindah.

E. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TUMBUH KEMBANGNYA KREATIVITAS

Menurut David Campbel (dalam Mangunhardjono, 1986) ada beberapa hal atau kondisi yang mempengaruhi berkembangnya kreativitas, yaitu :
1. Faktor pebawaan (Genetik)
2. Adanya keterbukaan dalam keluarga
3. Adanya kebebasan psikologis
4. Kehidupan yang sering berpindah-pindah
5. Tersedianya fasilitas yang memadai untuk mengembangkan bakat
6. Keberanian dalam mengambil resiko.

Selain itu, David juga mengemukakan hal yang menghalangi berkembangnya kreativitas anak, antara lain :
 Takut gagal bila melakukan aktivitas,
 Terlalu mengutamakan tata tertib dan tradisi,
 Gagal melihat kekuatan yang dimilikinya,
 Berpikir terlalu pasti,
 Enggan untuk mencoba-coba / bermain-main,
 Terlalu mengharap hadiah.

F. USAHA-USAHA GURU DAN ORANG TUA UNTUK MENGEMBANGKAN KREATIVITAS REMAJA

Menurut Clark (1979) dan Rogers yang dikutip oleh Munandar (2004), untuk mengembangkan kreativitas (dalam mengajar) perlu menciptakan rasa aman dan kebebasan psikologis. Untuk itu pendidik perlu mengusahakan :
BAKAT KHUSUS
BAKAT KHUSUS

1. PENGERTIAN KHUSUS
Istilah bakat adalah suatu karakteristik unik individu yang membuatnya mampu melakukan aktivitas dan tugas secara mudah dan sukses. Dari keterangan ini dapat dicontohkan bahwa burung punya bakat terbang, ikan untuk berenang, dan harimau berlari kencang dan berburu.
Bakat ditentukan oleh banyak hal, heriditer (faktor genetik) selalu memegang peranan walaupun bukan satu-satunya yang terpenting, training (latihan)
Sejumlah ahli mengemukakan pengertian bakat sesuai dengan sudut pandangnya masing-masing :
a) S.C. Utami Munadar (1985)
Bakat pada umumnya diartikan sebagai kemampuan bawaan, sebagai potensi yang masih perlu dikembangkan dan dilatih agar dapat terwujud.
Berbeda dengan bakat “kemampuan” merupakan daya untuk melakukan suatu tindakan sebagai hasil dari pembawaan dan latihan.
Kemampuan menunjukan tindakan dapat dilakukan sekarang, sedangkan bakat memerlukan latihan dan pendidikan agar suatu tindakan dapat dilakukan dimasa yang akan datang. Bakat dan kemampuan menentukan prestasi seseorang. Orang berbakat matimatika diperkirakan akan mampu mencapai prestasi tinggi dalam bidang matimatika. Jadi “prestasi”merupakan perwujudan bakat dan kemampuan.
Presatasi yang menonjol dalam salah satu bidang mencerminkan bakat yang unggul dalam bidang tersebut,begitu juga sebaliknya.

b) Kartini Kartono (1979)
Bakat adalah mencakup segala faktor yang ada pada individu sejak awal pertama dari kehidupan nya, yang kemudian menumbuhkan perkembangan keahlian,kecakapan,dan keterampilan khusus tertentu.Bakat bersifat laten potensial (dalam arti dapat mekar berkembang) sepanjang hidup manusia dan dapat diaktifkan potensinya .Potensi-potensi yang terpendam dan masih tetap itu dapat dibuat aktif.

c) Suganda Pubakawatja
Bakat sebagai “Benih dari suatu sifat, yang baru akan nampak nyata, jika mendapat kesempatan atau kemungkinan untuk berkembangan”.

d) Dyke Bingham (dalam Ny. Moesono;1989)
Bakat adalah suatu kondisi atau seranagkaian karakteristik dari kemampuan seseorang untuk memcapai sesuatu dengan sedikit latihan (khusus) mangenai pengetahuan, keterampilan, atau serangkaian, respon misalnya kemampuan berbahasa, mengarang lagu, dll.

e) Sarlito Wirawan Sarwono (1979)
Bakat adalah kondisi dalam diri seseoarang yang memungkinkannya dengan suatu latihan khusus mencapai kecakapan, penetahuan dan keterampilan khusus.

Berdasarkan pendapat para ahli tersebut ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Bakat meruakan kemampuan bawaan, sebagai potensi yang masih perlu dikembangkan dan dilatih agar dapat terwujud.
2. Bakat tidaklah diturunkan semata, tetapi merupakan interaksi dari faktor keturuan dan faktor lingkungan, artinya dibawa sejak lahir berupa potensi dan berkembang melalui proses belajar, dan memiliki ciri khusus.
3. Orang yang berbakat dalam bidang tertentu diperkirakan akan mampu mencapai prestasi tinggi dalam bidang itu. Jadi prestasi sebagai perwujudan bakat dan kemampuan.
4. Bakat mencakup ciri-ciri lain yang dapat memberi kondisi atau suasana memungkinkan bakat tersebut terealisasi, termasuk intelegensi, kepribadian, interes, dan keterampilan khusus. “Bakat adalah suatu kapasitas untuk belajar sesuatu” arti kapasitas adalah potensi kemampuan untuk berkembang.



2. JENIS – JENIS BAKAT KHUSUS
Setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda sesuai dengan potensi yang ada pada dirinya. Potensi yang dimiliki individu ada yang bersifat umum dan ada yang khusus. Intelegensi termasuk kemampuan umum, sedangkan kemampuan khusus mengacu kepada bakat yang dimiliki individu yang biasanya disebut dengan bakat khusus. Bakat khusus adalah seperangkat nilai yang dianggap sebagai tanda kemampuan individu untuk menerima latihan atau respon, seperti kemampuan berbahasa, musik, berhitung, mekanik, olahraga, dan sebagainya.
Raven (dalam Pali, 1995) mengelompokkan bakat khusus seseorang sebagai berikut : bakat pemahaman verbal, kemampuan numerical, skolastik, bakat kerani (kesekretariatan), pemahaman mekanik, tilikan (pandangan) ruang atau berpikir 3 dimensi, dan bakat bahasa.
Selanjutnya ditinjau dari cara berfungsinya, Ny. Moesono (1979) mengemukakan bahwa bakat dapat dikelompokkan menjadi 2 bagian, yaitu :
a. Bakat kemahiran atau kemampuan mengenai bidang pekerjaan yang khusus seperti bakat musik, bakat menari, olahraga (sepakbola, senam), dan sebagainya.
b. Bakat khusus tertentu yang diperlukan sebagai perantara untuk merealisir kemampuan tertentu, misalnya bakat melihat ruang (dimensi) yang diperlukan untuk merealisir bakat insinyur, bakat berhitung untuk merealisir bakat sebagai ahli statistik atau akuntansi, bakat verbal untuk merealisisr baakt sebagai wartawan atau penulis novel, bakat bahasa untuk merealisir bakat orator dan penceramah.
Bakat bukanlah sifat tunggal, melainkan sekelompok sifat-sifat yang secara bertingkat membentuk bakat.

3. HUBUNGAN ANTARA BAKAT KHUSUS DENGAN KREATIVITAS

Dari hasil-hasil penelitian Keberbakatan dan Anak Berbakat, Renzulli dkk. (1981) menarik kesimpulan bahwa yang menentukan keberbakatan seseorang adalah pada hakekatnya tiga kelompok (cluster) ciri-ciri, yaitu : kemampuan di atas rata-rata, kreativitas, pengikatan diri (tanggung jawab terhadap tugas). Seseorang yang berbakat adalah seseorang yang memiliki ketiga ciri tersebut. Kreativitas sebagai kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru, sebagai kemampuan untuk memberikan gagasan-gagasan baru yang dapat diterapkan dalam pemecahan masalah atau sebagai kemampuan untuk melihat hubungan-hubungan baru antara unsur-unsur yang sudah ada sebelumnya, adalah sama pentingnya.
Kreativitas merupakan salah satu ciri dari perilaku yang berbakat karena kreativitas juga merupakan manifestasi dari suatu proses pengembangan bakat. Meskipun demikian, hubungan antara kreativitas dan bakat tidak selalu menunjukkan bukti-bukti yang memuaskan. Bakat yang rendah memang diikuti oleh tingkat kreativitas yang rendah pula. Namun semakin tinggi bakat seseorang, tidak selalu diikuti tingkat kreativitas yang tinggi pula. Hal ini tergantung pada proses perkembangan bakat yang harusnya disertai dengan proses perkembangan kreativitas.

4. HUBUNGAN ANTARA BAKAT KHUSUS DENGAN PRESTASI AKADEMIK

Inteligensi merupakan suatu konsep mengenai kemampuan umum individu dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya

PERKEMBANGAN MORAL

A. PENGERTIAN MORAL
Kata moral berasal dari bahas latin yaitu kata m os dan mores yang berarti kebiasan. Menurut Satloc dan Yunsan (1077) mengemukakan bahwa moral adalah kebiasan atau aturan yang harus dipatuhi dalam berinteraksi dengan orang lain.
B. PERKEMBANGAN MORAL
- Perkembangan moral menurutteori belajar sosial
Menurut teori ini perkembangan moral merupakan proses yang dipelajari selama proses interaksi sosial perseorangan dengan orang lain
Remaja akan berkembang moral dan baik apabila dalam sejarah kehidupan ia dapat meniru orang lain dilingkungannya.
- Perkembangan moral menurut teori kognitif
Jean Piaget menekankan bahwa perrkembangan kognitif erat kaitanya dengan perkembangan moral remaja tergantung dengan perkembangan konitif. Piaget berpendapat bahwa trdapat hubungan yang sejajar antara perkembangan mral dengan perkembangan kognitif
Hubungan perkembangan moral dan kognitif
Perkembangan kognitif Perkembangan moral
Periode sensorik motorik Belum punya konsep tentang moral
Periode praoperasional Payuh atau taat pada peraturan karena ada hukum yang mengatur
Pra operasional kongrit awal Secaraberlangsung menyesuaikan diri dengan norma yang belaku
Periode operasional kongrit Mulai memahami motivasi bertingkah sesuai dengan aturan
Periode operasional awal Sudah memahami menyesuaikan tindakan dengan norma yangberlaku.
Periode operasional formal Sudah memahami pentingnya menyesuaikan tindakan dengan norma yang berlaku.

C. Tahap Perkembangan Moral

PERKEMBANGAN MASA REMAJA

A. Kekhasan tingkah laku moral remaja.
1. Remaja menyadari bahwa yang disebut benar atau salah itu adalah atas pertimbangan keadilan atau kebijaksanaan atas kemauan orang yang berkuasa.
2. Remaja paham tentang perlakuan moral atau agama dan sosial karena telah diperolehnya kemampuan untuk memahami sesuatu dari sudut pandang tertentu.
3. Akiabat perubahan diatas remaja mengalami konflik tingkah laku moral dengan pikiran moral.

B. Faktor yang mempengaruhi perkembangan moral remaja.
1. Orang tua dan guru sebagai model
Super ego terbentuk pada remaja karena remaja megdentifikasi orang tua yang sejenis kelamin dengan mereka. Ini berarti hilangya sifat odepus compleks.
Menurut Freud, baik remaja pria maupun wanita meniru tingkah laku oaring tua yang sejenis adalh karena keinginan untuk seperti orang tua. Anak lelaki ingin seperti ayahnya dan anak perempuan seperti ibunya.
Aspek tingkah laku yang ditiru oleh orang tua diperlukan atau diuji dengan kenyatan yang berbeda dilingkungan sehingga trjadi identifikasi tinkah laku.
2. Disiplin yang diberikan orang tua
Tedapat hubungan antara disiplin orang tua dengan perkembanganmoral remaja.
- Orang tua itu menonjolkan kekuasaan dalam mendisiplinkan remaja, dapat melemahkan perrkembangan moral remaja.
- Orang tua yang menetapkan disiplin penarika cinta menimbulkan pengaruh buruk bagi perkembangan remaja.
- Orang tua yang menetapkan disiplin induksi, maka akan meningkatkan perkembangan moral remaja.
- Disiplin yang dilakukan acak jarang mempengaruhi perkembangan moral remaja.
- Perasan kasih sayang yang diberikan orang tua melalui tingkah laku yang ramah hangat akan membawa dampak positif bagi perkembangan moral.
3. Interaksi dengan teman sebaya.
Piaget menyatakan bahwa interaksi denga teman sebaya dan kemampuan bermain oeran meningkatkan perkembangan moral remaja. Interaksi dengan teman sebaya dan kemampuan bermain peran terjadi karena telah dikuasainya kemampuan memahami sesuatu
.
C. Usaha yang dapat dilakukan orang tua, guru dalam mengembangkan moral remaja
PERKEMBANGAN SOSIAL
PERKEMBANGAN SOSIAL

A. Pengertian perkembangan sosial
Keberhasilan individu menjadi anggota suatu masyarakat ditentukan oleh norma yang telah digariskan masyarakat dimana individu tersebut berada.
Beberapa ahli mengemukakan pengertian sosialisasi dari berapa sudut pandang Brim merumuskan bahwa sosialisasi adalah proses merupakan proses memperoleh pengetahuan da keterampilan yang memungkinknan seseorang berpartisipasi secara proaktif dalam kelompok masyarakat.
Menurut E.Spirit, pengertian sosialisasi ialah yang terrmasuk kedalamnya keterampialn individu, motiv sikap yang diperlukan untuk melakukan suatu peranan masyarakat yang berlangsung seumur hidup.
Maka dapat diambil beberapa konsep sosialisasi sebagai berikut:
1) Sosialisasi memerlukan proses belajar.
2) Sosialisasi memerlukan proses yang memungkinkan seseorang mengubah tingkah laku ssesuia dengan masyarakat.
3) Ssialisasi merupakan cara penyesuaian tingkah laku seseorang yang berada dalam tingkaat perkembangan terrtentu dengan tingkah laku yang diinginkan.
B. Ciri-ciri perkembangan sosial remaja.
1) Ketertarikan kepada lawan jenis.
Ketertarikan terhadap lawan jenis dapat dilihat kesukaan dan kegembiraan dalam kelompok yang anggota kelompoknya .
2) Kemandirian dalam bertingkah laku sosial
Remaja berusah mandiri dalam bersosilisasi maka remaja tersebut diharapkan dapat mengambil keputusan tingkah laku yang tepat. Oleh karena itu remaja diharapkan bertingkah laku sosial yaitu :
a) Konsep diri
Hal ini akan mempengaruhi tingkah laku sosial karana bagaimana memandang dirinya sendiri dan menyaksikan orang lain.
b) Memahami moral-moral yang berlaku dilingkunagn sosial
c) Control emosi.
d) Kemampuan memecahkan masalah
3) Kesenangan berkelompok
Suatu tingkah laku sosial yang juga menonjol pada remaja adalah kesenagan kelompok yangn terdiri dari :
a) Kelompok teman dekat
b) Kelompok kecil
c) Kelompok besar
d) Kelompok terorganisir.
e) Kelompok geng
C. Faktor-factor yang mempengaruhi perkembangan sosial

Perkembangan Konsep Diri

A. Pengertian konsep diri
Konsep diri adalah pendapat seseorang tentang dirinya sendiri baik menyangkut kemampua mental maupun fisik, prestasi mental dan fisik, otak yang menyangkut segala sesuatu yang menjadi miliknya yang bersifat material.
B. Perkembangna konsep diri
Strong (1970) memperkenalkan 4 konsep diri yaitu:
1) Konsep diri menyangkut pemahaman seseorang (remaja) tenntang pemahamna terhdap diri.
2) Konsep diri itu tak tetap, tetapi terjadi perubahan yang berfluktuasi dari waktu kewaktu dan dari pengalaman ke pengalaman.
3) Konsep diri sosial adalah pendapat seseorang remaja tentang bagaimana orang laian memandang dirinya.
4) Ada konsep diri ideal dn konsep diri realita. Ideal yaitu konsep diri yang seperti diharapkan. Realita yaitu yang kenyataan terjadi terhadap belum seperti yang diharapkan.

C. Ciri-ciri konsep remaja
Mc condelis menyatakan beberapa cirri konsep diri remaja yang sehat yaitu:
a) Tepat dan sama
Konsep diri tepat dan sama dengan kenyataan yang ada pada diri remaja tersebut
b) Fleksibel
Konsep diri yang sehat dapat pula ditandaidenga ke fleksibelan remaja dapat menjalankan peranya di masyarakat.
c) Control diri
Remaja yang punya konsep diriyang sehat mampu mengatur dirinya ssesuaia denganstandar bertinggakah laku yang telah menjad miliknya sendiri, bahkan diatur oleh kehendak orang yang lain.
D. Faktor yang mempengaruhi konsep diri remaja
1) Pilihan karir remaja.
Remaja yang mempunyai konsep diri Yang cocok cenderung akan memilih pilihan karir yang status sosialnya tinggi, seperti pimpinan, bukan sebagai bawahan
2) Pengaruh lingkungan sekolah
Menurut morison mengemukakan pendapat yang menyangkut hubungan konsep diri prestasi sekolah :
- Banyak penelitian yang menumbuhkan hubugan positif yang antara konsep diri dan prestasi sekolah.
- Penting diciptakanya situasi sekolah yang mengembangkan konsep diri dan prestasi.
- Pengaruh penyesuaian sosial
- Siswa yang punya konsp diri tinggi lebih mudah melakukan penyesuaian diri.
E. Usaha Guru dan orang tua dalam menunjang perkemahan konsep diri remaja.
1) Lingkungan keluarga
Situasi sosial emosional dalam keluarga yang hangat dapat dilihat dari orang orang tua yang suka menonjolkan aspek-aspek positif dan remaja dan meredam kelemahan-keleman mereka. Lingkungan kelurga seperti itu akan meredam kelemahan-kelemahan mereka. Lingkungan keluraga seperti itu akan membentuk konsep diri yang sehat dan positit pada diri remaja yang dapat dilihat dari konsep sisiplin dan keluar dari dalam diri remaja.
2) Lingkungan sekolah
Situsi sekolah yang diharapkan dapat membentuk konsep diri remaja adalah sebagaii berikut
- Memberikan penguatan pada situasi belajar.
- Memberikan sokoangan dan menciptakan situasi yang mendukung siswa.
- Menghargai usaha siswa.
- Berusaha mengembangkan bekat dan keterrampialn siswa
- Tidak member penilaian sebelum konsepdipahami siswa.
- Hubungan sosial guru dan siswa hangat.
- Menciptakan program sekolah yang menarik.

Silahkan Comments disini Gan

 
Design by Rahmat Ha Pe | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India