blog-indonesia.com
Tampilkan postingan dengan label Belajar Pembelajaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Belajar Pembelajaran. Tampilkan semua postingan

2 Feb 2010

Jawaban Ujian Tengah Semester Belajar Pembelajaran

1. Kemukakan pengertian belajar menurut 5 orang ahli kemudian simpulkan pengertian belajar menurut agrumentasi anda?
a) Menurut W.H BURTON
Menurut W. H Button ia memandang belajar adalah perubahan tingkah laku pada diri individu dan individu dengan lingkungannya. Burton berpendapat bahwa unsur utama dalam belajar adalah terjadinya perubahan pada seseorang.
b) Memurut HIlgard dan Bowel
Mengemukakan bahwa belajar adalah berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap suatu situasi tertentu yang disebabakan oleh pengalaman yang berulanh-ulanga dalam situasi itu, dimana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atau dasar kecendrungan respon pembawaan, kematangan atau keadaan-keadaan sesaat seseorang.
c) Menurut Morgan
Belajar adalah setiap perubahan yang relative menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan pengalaman.
d) Memurut Skiner
Belajar adalah suatu perilaku. Pada seseorang yang belajar maka responnya akan menjadi lebih baik. Sebaliknya, bila tidak belajar responnya menjadi menurun. Skinner menekankan belajar pada penguasaan keterampilan oleh seseorang melalui latihan.
e) Menurut J. Neweg
Belajar adalah suatu proses dimana perilaku seseorang mengalami perubahan sebagai akibat pengalaman unsure. Ada 3 unsur dalam pengertian Neweg, yaitu: Proses yang terjadi dalam diri seseorang, pengalaman, dan perubahan perilaku.
Jadi dari kelima pendapat diatas saya menyimpulkan bahwa belajar adalah: proses perubahan tingkah laku melalui usaha atau kegiatan yang bertujuan mengadakan perubahan di alam diri seseorang, mencakup perubahan tingkah laku, sikap, kebiasaan, ilmu pengetahuan, keterampilan, dan sebagainya, melalui latihan atau pengalaman.


2. Kemukakan pengertian teori belajar menurut beberapa ahli (teori Behavioristik, Humanistic, Siberrnetik, Kognitif dan Gestal) simpulkan dan beri contoh masing-masing pengertian belajar menurut argument anda?
a) Teori Behavioristik
Belajar menurut teori ini adalah perubahan dalam tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon, atau lebih tepat perubahan yang dialami siswa dalam kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon. Tokoh dalam teori ini yaitu:
1. Edward Lee Thorndike (1874-1949)
Belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R). Stimulus adalah suatu perubahan dari lingkungan eksternal yang menjadi tanda untuk mengaktifkan organisme untuk beraksi atau berbuat. Respon (R) adalah sembarang tingkah laku yang dimunculkan karena adanya perangsang.
2. Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936)
Apabila stimulus yang diadakan selalu disertai dengan stimulus penguat, stimulus tadi cepat atau lambat akhirnya akan menimbulkan respons atau perubahan yang kita kehendaki.
3. Burrhus Federic Skinner (1904-1990)
Unsur terpenting dalam belajar adalah penguatan (reinforcement). Maksudnya pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan stimulus-respon akan semakin kuat bila diberi penguatan.
4. Robert Gagne (1916-2020)
Belajar dimulai dari hal yang paling sederhana (belajar signal) dilanjutkan pada yang lebih kompleks sampai pada tipe belajar yang lebih tinggi (belajar aturan dan pemecahan masalah). Prakteknya gaya belajar tersebut tetap mengacu pada asosiasi stimulus-respon.
5. Clark Hull
Suatu kebutuhan atau “keadaan terdorong”(oleh motif, tujuan, maksud, aspirasi, ambisi)harus ada dalam diri seseorang yang belajar, sebelum suatu respon dapat diperkuat atas dasar pengurangan kebutuhan itu.
6. Edwin Guthrie
Hubungan antara stimulus dan respon cenderung bersifat sementara. Karena itu diperlukan pemberian stimulus yang sering agar hubungan ini menjadi lebih langsung. Suatu respon berhubungan dengan berbagai macam stimulus.

b) Teori Humanistik
Proses belajar harus berhulu dan bermuara pada manusia itu sendiri. Teori ini lebih menekankan kepada pentingnya Isi dari pada proses belajar itu sendiri. Sehingga teori ini lebih banyak berbicara tentang proses belajar dan pendidikan dalam bentuk yang ideal.
Tokoh tokoh dalam teori ini adalah:
1. Blom dan kartwold
Ia menyatakan bahwa hal-hal apa saja yang mungkin dikuasai (dipelajari) oleh siswa yang tercakup dalam 3 kawasan, yaitu kawasan kognitif, afektif, psikomotor.
2. Kolb
Siklus belajar terjadi secara berkesinambungan dan berlangsung di luar kesadaran si pelajar melalui pengalaman, pengamatan, konseptualisasi ekperimentasi aktif
3. Honey dan Mumford
Empat macam atau tipe siswa yaitu: aktivis, reflector, teoris dan pragmatis.
4. Habermas
Belajar sangat dipengaruhi oleh interaksi baik dengan lingkungannya maupun dengan sesama manusia. 3 tipe belajar yaitu: belajar teknis, belajar praktis, belajar emansipatoris.
5. Combs
Apabila kita ingin memahami perilaku orang kita harus mencoba memahami dunia persepsi orang itu.
6. Maslow
Menyatakan perhatian dan motivasi belajar tidak mungkin berkembang kalau kebutuhan dasar siswa belum terpenuhi.

c) Teori Kognitif
Menurut teori ini pengetahuan dibangun dalam diri seseorang melalui proses interaksi yang berkesinambiungan dangan lingkungan, prosesnya mengalir dan berkesinambungan. Tingkah laku individu senantiasa didasari kepada kognisi seseorang dimana didalam situasi belajar individu harus terlibat langsung dimana tujuan akirnya akan diperoleh insight untuk memecahkan masalah tersebut.
Tokoh-tokoh dalam teori ini adalah:
a. Jean Piaget
Guru seyogyanya memahami tahap-tahap perkembangan berpikir anak didiknya serta memberikan materi pelajaran dalam jumlah dan jenis yang sesuai dengan tahap-tahap tersebut.
b. Ausubel
Pengetahuan guru terhadap isi pelajaran harus sangat baik, hanya dengan demikian seorang guru akan mampu menemukan informasi.
c. Bruner
Proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu aturan (termasuk konsep, teori, defenisi, dan sebagainya)melalui contoh-contoh yang menggambarkan (mewakili) aturan yang menjadi sumbernya.
d) Teori Gestalt
Belajar menurut psikologi gestalt terjadi jika ada pengertian (insight). Pengertian atau insight ini muncul apabila seseorang setelah beberapa saat mencoba memahami suatu masalah, tiba-tiba muncul adanya kejelasan, terlihat olehnya hubungan antara unsure-unsur yang satu dengan yang lain, kemudian dipahami sangkut pautnya;dimengerti maknanya. Tokoh psikologi gestalt adalah:
a. Kohler
Insight diperoleh secara tiba-tiba begitu ia menemukan hubungan antara unsure-unsur dalam situasi yang semula merupakan suatu masalah bagi dirinya.
b. Max Wartheimer dan Katona
Insight pada dasarnya dapat pula diperoleh dengan melihat struktur esensial dalam situasi problematic.
e) Teori Sibernetik
Belajar saibernetik adalah proses pembelajaran professional dan penyampaian informasi yang terjadi pada saat siswa dan guru terpisah atau lokasi mereka berjauhan dengan memamfaatkan peralatan elektronik untuk berkomunikasi misalnya computer dan internet.
Sedangkan Pendapat para ahli belajar sibernetik adalah:
1. Suciati dan Prasetya Irawan
Belajar adalah pengolahan informasi. Selain mementingkan proses teori ini lebih mementingkan system informasi yang diproses itu. Informasilah yang menentukan proses.
2. Landa, dikutip oleh Suciati dan Prasetya Irawan
Teori belajar sibernetik pada dua macam proses berpikir, yaitu proses berpikir algoritmik (proses berpikir linear, komvergen, lurus, menuju pada satu target tertentu) dan cara berpikir heuristic (cara berpikir divergen menuju ke beberapa target sekaligus).
3. Pask dan Scott
Pendekatan serialis yang sama dengan konsep algoritmik, dan cara berpikir “menyeluruh”(wholist)adalah cara berpikir yang cenderung melompat ke depan, langsung pada gambaran lengkap suatu informasi.
Kesimpulan dari pendapat terdahulu adalah:
1) Belajar behavioristika adalah:
Seseorang dikalakan belajar jika telah terjadi perubahan tingkah laku pada dirinya yang diakaibatkan oleh stimulus dan respon, proses ini terjadi karena adanya masukan berupa stimulus, sehingga dimunculkan stimulus atau keluaran yang dikeluarkan oleh peserta didik.
Contoh
Dalam belajar matematika seorang guru telah menyiapkan bahan, dan pertanyaan-pertanyaan yang dapat menimbulkan stimulus dan respon sehingga menimbulkan respon balik oleh peserta didik. Jika respon itu bersifat positif guru dapat memberikan pujian, seedangkan bagi yangbersifat negative guru dapat memberikan hukuman yang mendidik seperti memberikan tugas. Sehingga hasil dan tujan terrcapai.
2) Teori belajar humanistik adalah:
Teori ini lebih mengedepankan proses belajar dari pada hasil belajar itu sendiri berupa tahapa ranah kognitif, ranah afektif, psikomotor, yang dinyatakan oleh Blomm , kemudian tingakatan tahap belajar yang dinyatakan oleh Klob yaitu belajar melalui pengalaman, pengamatan, konseptualisasi, ekperimentasi aktif
Belajar disini bertujan untuk memanusiakan manusia.
Contoh:
Misalanya siswa tata boga belaja jenis –jenis kue. Kemudian ia mempraktekan bagai mana cara membuat kue,baik kue basah mau pun kue kerring lalu ia dapat ia dapat menyeimpukan bahwa membauat kue basah lebih sulit dari pada kue kering.
3) Teori koknitif.
Daiama pada teori ini proses belajarr tidak dapat dipisahkan kan tatapi merupakan kesatuan yang utuh. Dimanan seseorang untuk mempelajari sesuatu ia harus memahami keseluruhanya terlebih dahulu baru bahagian-bahagiannya.
Contoh:
Seorang siswa ingin memahami konsep bahasa pemograman maka ia harus terlebih dahulu memahai apa iru computer, ya ng mana hardware, software dan lain lain . barulah ia akan mengerti apa itu bahas pememograman dan pengaplikasianya.
4) Teori gestalt
Dari pernyataan terrdahulu dapat disimpulkan bahwa teorio gestalt adalah serangkaian proses penemuan sesuatu dengan bantuan pengalaman yang telah ada sebelumnya sehingga akan memunculkan sebuah pengertian(insight).
Contoh:
Misalnya seorang siswa mengamati sebuah rumah. Ia memulainya dengan mengamati bahagian- bahagian rumah misaya rumah terdiri dari atap, jendela pondasi pintu dindingb dan lain-lain, dari pengalamanya yang terdahulu . kemudian ia dapat menghubungkan bahagian-bahagian tersebut menjadi utuh sehingga ia dapat memahami apa itu rumah dan pengertian rumah itu sendiri.
5) Teori sibernetik
Teori sibernetik merupakan proses belajar yang mengedepankan teknologi sebagai sumber daya utama dalam proses pembelajaran , sehingga proses belajar dapat berlangsung meskipun jarak anta pendidik dengan peserta didik berjauhan
Contoh
Maha sisiwa FT belajar dengan cara teleconferens


3 Jelaskan hakekat CBSA, jelaskan rasional yang mendasari perlunya CBSA dalam Proses pembelajaran serta hubungan CBSA denagan keterampilan dan proses dalam metoda belajar
a) Hakekat belajar CBSA
Merupakan cara atau teknik Merupakan cara, teknik, dan ada juga yang mengatakan sebagai suatu pendekatan.
Pendekatan CBSA dapat diartikan sebagai anutan pembelajaran yang mengarah pada optimalisasi pelibatan intelektual dan emiosional dalam proses pembelajaran dan bila perlu keterlibatan fisik.
Secara konseptual CBSA adalah suatu proses kegiatan belajar mengajar yang subjek didiknya terlibat secara intelektual dan emosional sehingga ia betul-betul berperan dan berpartisipasi aktif dalam melakukan kegiatan belajar.
b) Rasional yang mendasari pertimbangan perlunya Cbsa dalam proses belajar.
Karena pada saat ini perubahan kehidupan semakin pesat baik dalam ilmu npengetahuan, teknologi , dan aspek kehidupan yang semakain menglobal sehingga persainagn hidup semakin meningkat, dan proses pendidikan pun berubah.
Misalnya banyak diantara guru yang tidak menyelenggarakan pengajaran yang menarik sehingga tidak dapat mencapai sasaran-sasaran yang diharapkan. Penggunaan metode ceramah masih mendominasi kegiatan guru. Proses pengajaran ini tidak mungkin dapat mempersiapkan peserta didik yang mampu bersaing dalam kehidupan dan menyesuaikan diri terhadap berbagai tantangan yang makin berat. Pengajaran harus diorientasikan pada kemampuan bersikap dan berpikir kritis yang dibangun dari konsep-konsep dasar filosofis yang kuat;dilakukan melalui proses yang memberikan berbagai peluang dan pengalaman belajar yang penuh arti, dan dilakukannya penilaian yang benar-benar akurat, jujur, objektif dan penuh antisipasi dalam menjawab tantangan hidup masa depan.
Motivasi yang kuat dari peserta didik maupun guru untuk belajar terus memerus mesti tumbuh, terpelihara dan harus dilatihkan. Mereka hendaknya dibiasakan menghadapi masalah dan berusaha mencoba dan mencari jawaban atas masalah yang dihadapi itu.
Guru-guru sudah seharusnya mampu melibat aktifkan peserta didik dengan penuh kemerdekaan. Peserta didik harus merasa senang dalam belajar, dalam mencari ilmu pengetahuan dan teknologi. Demokratisasi juga harus terjadi dalam proses pengajaran sehari-hari. Merekapun harus memperoleh prestasi belajar yang tinggi. CBSA, baik sebagai konsep maupun pendekatan dalam pengajaran bermaksud merespon berbagai tantangan dalam proses pembelajaran.Karena itu CBSA sepantasnya mendapat prioritas tinggi untuk dilaksanakan, khususnya guru dan siswa dalam pelaksanaan proses belajar mengajar
c) Hubungan CBSA dengan keterampialn proses dan metoda belajar.
CBSA merupakan sebuah konsep atau upaya untuk mengembangkan keaktifan siswa dan guru dalam proses belajar mengajar, sehingga peserta didik secara aktif untuk mengembangkan kemampuan dan penalarannya seperti memahami, mengamati, menginterpretasikan konsep, merancang penelitian, melaksanakan penelitian, mengkomunikasikan hasilnya, dan seterusnya, dengan mengikuti prosedur atau langkah-langkah yang teratur dan urut.
Sebagai seorang guru mungkin dapat dapat menggunakan pendekatan keterampilan Proses(PKP) sebagai acuan untuk pengembangan keterampilan-keterampilan intelektual, sosial dan fisik yang bersumber dari kemampuan-kemampuan dasar yang telah ada dalam diri siswa.
4. Jelaskan Hirarki masing-masing ranah kognitif, afektif, psiko motor dalam proses pembelajaran. Serta Argument anda bagai mana cara mencapai masing-masing ranah terrsebut?
a. Ranah kognitif
Menurut taksonomi bloom terdapat 6 jenis prilaku dari ranah kognitif yaitu:
1) Pengetahuan
Diamana kemampuan ini diperoleh dari pengelaman belajar sebelumnya memalui proses mengingat.
2) Pemahaman
Setelah pengetahuan diperoleh peserata didik dapat memahami pokok pengetahuan tersebut secara mendalam dengan jalan menafsirkan, menerjemahkan, dan memperkirakan.
3) Penerapan
Merupakan tahap lanjutan dari tahap sebelumnya dimana setelah memahami pesesta didik hendaknya dapat menerapkanya.
4) Analisis
Merupakan kemampuan untuk mejabarkan kembali masalah yang dihadapi sehinga semua bahagian dapat dipahami dengan mudah dan adap[at menghubungkan pemahaman yang lain dengan pemahaman yang lainya.
5) Sintesis
Kemampuan untuk dapat menyusun kembali sebuah pola baru sebagi hasil dari analisi sebelumnya.
6) Evaluasi
Mencakup kemampuan untuk dapat menilai sesuatu sesuai atuaran atuaran yang telah ditentukan dimana hal ini bereti menilai kembali apa yang telah di rumuskan sebelumnya. Utuk mencapai tahapan evaluasi peseerta didik harus mampu menguasai atau memiliki ilmu pengetahuan, pemahaman, penerapan, analis dan sistesis. Barulah ia dapat melakukan prose evaluasi.
b. Ranah afektif.
Keberhasilan pengembangan ranah kognitif tidak hanya akan membuahkan kecakapan kognitif, tetapi juga menghasilkan kecakapan ranah afektif. Sebagai contoh, seorang guru agama yang piawai dalam mengembangkan kecakapan kognitif, maka ini akan berpengaruh dalam afektif siswanya, seperti apabila seorang siswa diajak kawannya untuk berbuat tidak senonoh seperti melakukan seks bebas, meminum-minuman keras dan “pil setan”, ia akan serta merta menolak dan bahkan berusaha mencegah perbuatan asusila itu dengan segenap daya dan upayanya. Karena telah tetanam di dalam dirinya bahwa itu adalah perbuatan yang dilarang oleh agama.
Cara mencapai ranah ini menurut saya yaitu dengan: Menyiapkan kondisi pembelajaran melalui acara-acara pembelajaran yang berpengaruh pada proses belajar yang ditentukan oleh guru.
c. Ranah psikomotor
Kecakapan psikomotor ialah segala amal jasmaniah yang konkrit dan mudah diamati baik kuantitasnya maupun kualitasnya, karena sifatnya yang terbuka. Namun, di samping kecakapan psikomotor itu tidak terlepas dari kecakapan kognitif ia juga banyak terikat oleh kecakapan afektif.
Ranah psikomotor mencakup :
1) Persepsi
Yaitu kemampuan siswwa untuk menilai memahami memisahkan hal hal tertentu secara unik dadn khas sertta mengetahui masing-masing atau jenis-jenisnya.
2) Kesiapan
Yaitu: kemapuan siswa untuk menemp[atkan diri dalam keadaan akan terjadinya sebuah gerakan atau rangkaian yang mencakup aspek jasmani, dan rohani.
3) Gerakan terbimbing
Meliputi kemapuan untuk melakukan gerakan yang meniru atau sesuai dengan conroh yang diberikan.
4) Gerakan yang terbiasa
Mencakup kemampuan melakukan gerakan sendiri tanpa danya contoh.
5) Gerakan kompleks
Meliputi kemampuan siswa mwlakuakan banyak gerakan yang terdiri dari tahapan, secara lancar, dan tepat
6) Penyesuaian pola dan gerakan
Mencakup kemapuan mengadakan perubahan penyesuaian pola gerak gerik dengan persyaratan khusus yang berlaku
7) Kreativitas.
Mencakup kemapiuan melahirkan pola gerak baru atas prakarsa sendir.

Jadi menurut saya agar terjadinya pengembangan ranah afektif hendaknya kondisi pembelajaran melalui acara-acara pembelajaran ditentukan oleh guru. Sedangkan dalam pengembangan ranah psikomotor ini hendaknya proses pembelajaran sesuai dengan keadaan siswa, lingungan dan tempat terjadinya proses pendidikan.
5. Jalaskan unsur-unsur dinamis dalam proses blajar mengajar. Apa guna unsure dinamis dalam proses belajar mengajar.
Dalam hal mengoperasionalkan sasaran belajar yang berorientasi pada perilaku yang belajar maka hendaknya menjaring ranah kognitif, afektif dan psikomotorik dengan berbagai tingkat.Belajar yang terjadi pada individu merupakan perilaku kompleks, tindak interaksi antara si belajar dan pembelajar yang bertujuan, oleh karena itu belajar dapat didinamiskan melalui perlakuan yang bersifat internal yang berkaitan dengan ranah kognitif, afektif dan psikomotorik yang kesemuanya itu terkait dengan tujuan pembelajaran.
a. Dinamika siswa dalam belajar
Pada dinamika ini dalam proses belajar mengajar terdapat 3 ranah yang berperan yaitu ranah kognitif, psikomotor, dan afektif. Dalam ranah afektif teradapat 6 tingkatan yaitu pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisi, sintesis dan evaluasi. Jasi dalam mengoperasionalkan sasaran belajar yang berorientasi pada perilaku yang belajar maka hendaknya menjaring ranah kognitif, afektif dan psikomotorik dengan berbagai tingkat.Belajar yang terjadi pada individu merupakan perilaku kompleks, tindak interaksi antara si belajar dan pembelajar yang bertujuan, oleh karena itu belajar dapat didinamiskan melalui perlakuan yang bersifat internal yang berkaitan dengan ranah kognitif, afektif dan psikomotorik yang kesemuanya itu terkait dengan tujuan pembelajaran.

b. Dinamika guru dalam kegitan belajar
Guru sangat berperan dalam proses belajar mengajar karena guru dapat merangcang proses belajar dengan menciptakan kondisi kondisi tertentu yang mendukung proses belajar mengajar, menciptakan kedinamisan belajar berkaitan dengan factor eksternal yaitu kesiapan guru dalam menata bahan belajar, penciptaan suasana belajar yang menyenangkan, mengoptimalkan media dan sumber, memaksimalkan peranan sebagai pembelajar.
c. Unsur dinamis dalam belajar dalam proses belajar.
Unsure ini bermamfaat dalam peningkatan cara belajar, dan pembelajaran, baik bagi siswa maupun guru.

3 Jan 2010

Pendekatan CBSA

PENGERTIAN STRATEGI, METODE DAN TEKNIK BELAJAR MENGAJAR

Strategi belajar-mengajar adalah cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan materi pelajaran dalam lingkungan pengajaran tertentu, yang meliputi sifat, lingkup dan urutan kegiatan yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada siswa (Gerlach dan Ely). Strategi belajar-mengajar tidak hanya terbatas pada prosedur kegiatan, melainkan juga termasuk di dalamnya materi atau paket pengajarannya (Dick dan Carey). Strategi belajar-mengajar terdiri atas semua komponen materi pengajaran dan prosedur yang akan digunakan untuk membantu siswa mencapai tujuan pengajaran tertentu dengan kata lain strategi belajar-mengajar juga merupakan pemilihan jenis latihan tertentu yang cocok dengan tujuan yang akan dicapai (Gropper). Tiap tingkah laku yang harus dipelajari perlu dipraktekkan. Karena setiap materi dan tujuan pengajaran berbeda satu sama lain, makajenis kegiatan yang harus dipraktekkan oleh siswa memerlukan persyaratan yang berbeda pula.

Menurut Gropper sesuai dengan Ely bahwa perlu adanya kaitan antara strategi belajar mengajar dengan tujuan pengajaran, agar diperoleh langkah-langkah kegiatan belajar-mengajar yang efektif dan efisien. Ia mengatakan bahwa strategi belajar-mengajar ialah suatu rencana untuk pencapaian tujuan. Strategi belajar-mengajar terdiri dari metode dan teknik (prosedur) yang akan menjamin siswa betul-betul akan mencapai tujuan, strategi lebih luas daripada metode atau teknik pengajaran.


Metode, adalah cara, yang di dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai suatu tujuan. Hal ini berlaku baik bagi guru (metode mengajar) maupun bagi siswa (metode belajar). Makin baik metode yang dipakai, makin efektif pula pencapaian tujuan (Winamo Surakhmad)


Kadang-kadang metode juga dibedakan dengan teknik. Metode bersifat prosedural, sedangkan teknik lebih bersifat implementatif. Maksudnya merupakan pelaksanaan apa yang sesungguhnya terjadi (dilakukan guru) untuk mencapai tujuan. Contoh: Guru A dengan guru B sama-sama menggunakan metode ceramah. Keduanya telah mengetahui bagaimana prosedur pelaksanaan metode ceramah yang efektif, tetapi hasilnya guru A berbeda dengan guru B karena teknik pelaksanaannya yang berbeda. Jadi tiap guru mungakui mempunyai teknik yang berbeda dalam melaksanakan metode yang sama.


Dapat disimpulkan bahwa strategi terdiri dan metode dan teknik atau prosedur yang menjamin siswa mencapai tujuan. Strategi lebih luas dari metode atau teknik pengajaran. Metode atau teknik pengajaran merupakan bagian dari strategi pengajaran. Untuk lebih memperjelas perbedaan tersebut, ikutilah contoh berikut:


Dalam suatu Satuan Acara Perkuliahan (SAP) untuk mata kuliah Metode-metode mengajar bagi para mahasiswa program Akta IV, terdapat suatu rumusan tujuan khusus pengajaran sebagai benikut: “Para mahasiswa calon guru diharapkan dapat mengidentifikasi minimal empat jenis (bentuk) diskusi sebagai metode mengajar”. Strategi yang dipilih untuk mencapai tujuan pengajaran tersebut misalnya:

1.

Mahasiswa diminta mengemukakan empat bentuk diskusi yang pernah dilihatnya, secara kelompok.
2.

Mahasiswa diminta membaca dua buah buku tentang jenis-jenis diskusi dari Winamo Surakhmad dan Raka Joni.
3.

Mahasiswa diminta mendemonstrasikan cara-cara berdiskusi sesuai dengan jenis yang dipelajari, sedangkan kelompok yang lain mengamati sambil mencatat kekurangan-kekurangannya untuk didiskusikan setelah demonstrasi itu selesai.
4.

Mahasiswa diharapkan mencatat hasil diskusi kelas.

Dari contoh tersebut dapat kita lihat bahwa teknik pengajaran adalah kegiatan no 3 dan 4, yaitu dengan menggunakan metode demonstrasi dan diskusi. Sedangkan seluruh kegiatan tersebut di atas merupakan strategi yang disusun guru untuk mencapai tujuan pengajaran. Dalam mengatur strategi, guru dapat memilih berbagai metode seperti ceramah, tanya jawab, diskusi, demonstrasi dan sebagainya. Sedangkan berbagai media seperti film, kaset video, kaset audio, gambar dan lain-lain dapat digunakan sebagai bagian dan teknik teknik yang dipilih.


KLASIFIKASI STRATEGI BELAJAR-MENGAJAR

17 Nov 2009

TUJUAN BELAJAR DAN UNSUR-UNSUR DINAMIS DALAM BELAJAR

A. TUJUAN BELAJAR
1. Pengertian Tujuan Belajar
Belajar merupakan hal yang kompleks jika dipandang dari dua subjek, yaitu dari siswa dan guru. Dari segi siswa, belajar dialami sebagai suatu proses mental yang dialami siswa dalam menghadapi bahan belajar. Dari segi guru, proses belajar tersebut dapat diawali secara tidak langsung. Artinya proses belajar yang merupakan proses internal siswa tidak dapat diamati, tetapi dapat dipahami oleh guru.
Galloway dalam Toeti Soekamto (1992:27) mengatakan belajar merupakan suatu proses internal yang mencakup ingatan, retensi, pengolahan informasi, emosi dan faktor-faktor lain berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya. Sedangkan, Morgan menyebutkan bahwa suatu kegiatan dikatakan belajar apabila memiliki tiga ciri-ciri sebagai berikut :
 belajar adalah perubahan tingkah laku;
 perubahan terjadi karena latihan dan pengalaman, bukan karena pertumbuhan;
 perubahan tersebut harus bersifat permanen dan tetap ada untuk waktu yang cukup lama.
Berbicara tentang belajar pada dasarnya berbicara tentang bagaimana tingkahlaku seseorang berubah sebagai akibat pengalaman (Snelbeker 1974 dalam Toeti 1992:10).
Agar terjadi proses belajar atau terjadinya perubahan tingkahlaku sebelum kegiatan belajar mengajar di kelas seorang guru perlu menyiapkan atau merencanakan berbagai pengalaman belajar yang akan diberikan pada siswa dan pengalaman belajar tersebut harus sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.



2. Jenis-jenis Tujuan Belajar
Kegiatan belajar adalah suatu proses yang bertujuan dimana antara siswa dan guru sama-sama mengupayakan agar kegiatan pembelajaran memperoleh hasil belajar yang maksimal. Dengan demikian tujuan pembelajaran itu terdiri dari :
 tujuan instruksional (tujuan mata-mata pelajaran),
 tujuan pembelajaran umum (tujuan umum), dan
 tujuan pembelajaran khusus (sasaran belajar).
Ketiga jenis tujuan itu mempunyai hirarki yang jelas dimana tujuan pembelajaran awal dijabarkan melalui tujuan pembelajaran umum, kemudian masing-masingnya dijabarkan pula menjadi sejumlah tujuan pembelajaran khusus.


B. UNSUR – UNSUR DINAMIS DALAM BELAJAR
1. Dinamika Siswa dalam Belajar
Bloom dkk merupakan pelopor yang mengkategorikan perilaku hasil belajar menjadi 3, yaitu :
a. Ranah kognitif
 Pengetahuan, mencakup kemampuan ingatan tentang hal yang telah dipelajari dan tersimpan dalam ingatan.
 Pemahaman, mencakup kemampuan menangkap arti dan makna hal yang dipelajari.
 Penerapan, mencakup kemampuan menerapkan metode dari kaedah untuk menghadapi masalah yang nyata dan baru. Misalnya menggunakan prinsip.
 Analisis, mencakup kemampuan merinci suatu kesatuan dalam bagian-bagian sehingga struktur keseluruhan dapat dipahami dengan baik.
 Sintesis, mencakup kemampuan membentuk suatu pola baru.
 Evaluasi, mencakup kemampuan membentuk pendapat tentang beberapa hal berdasarkan kriteria tertentu.



b. Ranah afektif
 Penerimaan, mencakup kepekaan tentang hal tertentu dan kesediaan memperhatikan hal tersebut.
 Partisipasi, mencakup kerelaan, kesediaan memperhatikan dan berpatisipasi dalam suatu kegiatan.
 Pemikiran dan penentuan sikap, mencakup menerima sesuatu nilai, menghargai, mengakui, dan menentukan sikap.
 Organisasi, mencakup kemampuan membentuk suatu sistem nilai sebagai pedoman dan pegangan hidup.
 Pembentukan pola hidup, mencakup kemampuan menghayati nilai dan membentuknya menjadi pola nilai kehidupan pribadi.

c. Ranah psikomotor
 Persepsi, mencakup kemampuan memilah-milahkan hal-hal secara khas, dan menyadari adanya perbedaan yang khas tersebut.
 Kesiapan, mencakup kemampuan penempatan dari dalam keadaan dimana akan terjadi suatu gerakan atau rangkaian gerakan.
 Gerakan terbimbing, mencakup kemampuan melakukan gerakan sesuatu contoh, atau gerak peniruan.
 Gerakan yang terbiasa, mencakup kemampuan melakukan gerakan-gerakan tanpa contoh.
 Gerakan kompleks, mencakup kemampuan melakukan gerakan atau keterampilan yang terdiri dari banyak tahap, secara lancer, efisien, dan tepat.
 Penyesuaian pola gerakan, yang mencakup kemampuan mengadakan perubahan dan penyesuaian pola gerak-gerik dengan persyaratan khusus yang berlaku.
 Kreativitas, mencakup kemampuan melahirkan pola-pola gerak-gerik yang baru atas prakarsa.

Siswa yang belajar berarti memperbaiki kemampuan-kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dengan meningkatnya kemampuan-kemampuan tersebut maka keinginan, kemauan, dan perhatian pada lingkungan sekitarnya makin bertambah.

2. Dinamika Guru dalam Pembelajaran
Peran guru dalam kegiatan pembelajaran di sekolah relatif tinggi. Peran guru tersebut terkait dengan peran siswa dalam belajar. Menurut Biggs dan Telfer diantara motivasi belajar siswa ada yang diperkuat dengan cara-cara pembelajaran. Motivasi instrumental, motivasi sosial, dan motivasi berprestasi rendah misalnya dapat dikondisikan secara bersyarat agar terjadi peran belajar siswa. Junaidi (blogspot.com, 2009) mengemukakan bagaimana cara pembelajaran yang berpengaruh terhadap belajar siswa, yaitu :
a. Bahan ajar
Bahan ajar atau bahan belajar sangat berpengaruh terhadap belajar siswa. Contoh, berikan bahan ajar dalam gambar-gambar menarik, foto-foto berwarna atau jika menggunakan OHP atau LCD, dan gunakanlah huruf-huruf yang indah. Tujuannya hanya satu, yaitu membuat bahan ajar yang akan kita ajar semenarik mungkin jika dinilai siswa.
b. Suasana belajar
Kondisi gedung sekolah, tata ruang kelas, dan alat-alat belajar berpengaruh terhadap kegiatan belajar. Disamping kondisi fisik tersebut, suasana pergaulan di sekolah juga berpengaruh pada kegiatan belajar. Bagaimana caranya guru memberikan suasana belajar yang kondusif, aman, tentram, dan nyaman.
c. Media dan sumber belajar
Guru berperan penting dalam menempatkan media dan sumber belajar. Lingkungan sekolah, TV, majalah, surat kabar, dan dunia maya pun bisa digunakan sebagai media belajar.
d. Guru sebagai subjek pembelajaran
Guru memiliki peranan penting dalam kegiatan pembelajaran. Apabila guru tidak bisa mengajar dengan baik, maka biasanya murid akan malas dalam belajar.

Dengan adanya peran-peran tersebut, maka sebagai pengajar guru adalah pembelajar sepanjang hayat.



SUMBER BACAAN



Nirwana, Herman dkk. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Padang : FIP UNP

http://whandi.net/index.php?pilih=news&mod=yes&aksi..., diakses 16 Juli 2009 pukul 14.00 WIB

http://wawan-junaidi.blogspot.com/.../dinamika-guru-dalam-pembelajaran.html, diakses 16 Juli 2009 pukul 14.05 WIB

MASALAH-MASALAH BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

A. JENIS-JENIS MASALAH BELAJAR
Diantara banyak siswa di sekolah ada siswa yang berprestasi, namun banyak pula yang dijumpai siswa yang gagal. Secara umum, siswa-siswa yang mengalami nilai dan angka rapor banyak rendah, tidak naik kelas, tidak lulus ujian akhir, dan sebagainya dapat dianggap sebagai siswa yang mengalami masalah belajar.
Seseorang siswa dapat diduga mengalami kesulitan belajar, kalau yang bersangkutan tidak berhasil mencapai taraf kualifikasi hasil belajar tertentu.
Masalah belajar meliputi banyak aspek, Prayitno (Herman dkk, 2006:149-150) mengemukakan masalah belajar sebagai berikut :
1. Keterampilan Akademik
Keadaan siswa yang diperkirakan memiliki intelegensi yang cukup tinggi, tetapi tidak dapat memanfaatkannya secara optimal.

2. Keterampilan dalam Belajar
Keadaan siswa yang memiliki IQ 130 atau lebih tetapi masih memerlukan tugas-tugas khusus untuk memenuhi kebutuhan dan kemampuan belajar yang amat tinggi.

3. Sangat Lambat dalam Belajar
Keadaan siswa yang memiliki akademik yang kurang memadai dan perlu dipertimbangkan untuk mendapatkan pendidikan atau pengajaran khusus.

4. Kurang Motivasi dalam Belajar
Keadaan siswa yang kurang bersemangat dalam belajar mereka seolah-olah tampak jera dan malas.


5. Bersikap dan Berkebiasaan Buruk dalam Belajar
Kondisi siswa yang kegiatan atau perbuatan belajarnya sehari-hari antagonistic dengan yang seharusnya, seperti suka menunda-nunda tugas, mengulur waktu, membenci guru, tidak mau bertanya untuk hal-hal yang tidak diketahuinya dan sebagainya.


B. FAKTOR PENYEBAB TIMBULNYA MASALAH BELAJAR
1. Faktor yang Bersumber dari Diri Pribadi (Internal)
Faktor yang bersumber dari diri pribadi sendiri yaitu :
a. Faktor Psikologis
 Intelegensi
Siswa yang mempunyai intelegensi tinggi akan lebih mudah dalam memahami pelajaran yang diberikan guru atau lebih berhasil dibandingkan dengan siswa-siswa yang berintelegensi rendah.
 Bakat
Apabila bahan yang dipelajari oleh siswa tidak sesuai dengan bakatnya maka siswa akan mengalami kesulitan dalam belajar.
 Motivasi
Prestasi belajar siswa bisa menurun apabila siswa tersebut tidak mempunyai motivasi dalam belajar.

b. Faktor Fisiologis
Gangguan-gangguan fisik dapat berupa gangguan pada alat-alat penglihatan dan pendengaran yang dapat menimbulkan kesulitan belajar. Seperti gangguan visual yang sering disertai dengan gejala pusing, mual, sakit kepala, malas, dan kehilangan konsentrasi pada pelajaran.

2. Faktor Eksternal
a. Faktor yang Bersumber dari Lingkungan Sekolah :
 Metode mengajar
Apabila guru menggunakan metode yang sama untuk semua bidang studi dan pada setiap pertemuan akan membosankan siswa dalam belajar.
 Hubungan guru dengan guru, guru dengan siswa, dan siswa dengan siswa
Dalam proses pendidikan, antar guru, guru dengan siswa, dan antar siswa tidak terjalin hubungan yang baik dan harmonis untuk bekerja sama, maka siswa akan mengalami kesulitan dalam belajar. Karena antar personal sekolah akan saling menyebutkan kelemahan dari personal lain dan terjadinya persaingan yang kurang sehat.
 Sarana dan prasarana
Alat-alat belajar yang kurang atau tidak lengkap, buku-buku sumber yang diperlukan sulit didapatkan, ruang kelas, ruang kelas tidak mencukupi syarat seperti terlalu panas, pengap, dan ruang kecil yang tidak sesuai dengan jumlah siswa.

b. Faktor Keluarga
• Keadaan ekonomi keluarga
Apabila anak hidup dalam keluarga yang miskin dan harus bekerja membantu mencari tambahan ekonomi keluarga akan menimbulkan kesulitan bagi anak, mungkin akan terlambat datang, tidak dapat membeli peralatan sekolah yang dibutuhkan, tidak dapat memusatkan perhatian karena sudah lelah dan sebagainya.
• Hubungan antar sesama anggota keluarga
Apabila hubungan antar keluarga tidak harmonis, seperti orang tua sering bertengkar, orang tua otoriter, peraturan yang ketat, dan sebagainya, maka anak tidak bisa berkonsentrasi dalam belajar.
• Tuntutan orang tua
Tuntutan orang tua dapat menimbulkan kesulitan belajar bagi anak apabila tuntutan itu tidak sesuai dengan kemampuan, minat, dan bakat anak.

c. Faktor Lingkungan Masyarakat
Faktor yang bersumber dari lingkungan masyarakat yang dapat menimbulkan kesulitan belajar adalah media cetak, komik, buku-buku pornografi, media elektronik, TV, VCD, video, play station, dan sebagainya.


C. CARA PENGUNGKAPAN MASALAH BELAJAR
Menurut Prayitno (Herman dkk, 2006:155-156) siswa yang mengalami masalah belajar dapat dikenali melalui prosedur pengungkapan, yaitu :
1. Tes Hasil Belajar
Tes hasil belajar adalah suatu alat yang disusun untuk mengungkapkan sejauh mana siswa telah mencapai tujuan-tujuan pengajaran yang telah ditetapkan sebelumnya.

2. Tes Kemampuan Dasar
Setiap siswa memiliki kemampuan dasar atau intelegensi tertentu. Tingkat kemampuan dasar ini biasanya diukur atau diungkapkan dengan mengadministrasikan tes intelegensi yang sudah baku.

3. Melalui Pengisian AUM PTSDL
AUM PTSDL adalah alat ungkap untuk mendapatkan gambaran tentang berbagai aspek yang dapat mempengaruhi proses keberhasilan belajar, khususnya yang menyangkut prasyarat penguasaan materi pelajaran, keterampilan belajar, sarana belajar, keadaan diri pribadi, dan keadaan lingkungan fisik dan sosio-emosional.

4. Tes Diagnostik
Tes ini merupakan instrument untuk mengungkapkan adanya kesalahan yang dialami oleh siswa dalam bidang pelajaran tertentu. Dengan tes diagnostik sebenarnya sekaligus dapat diketahui kekuatan dan kelemahan siswa dalam bidang studi tertentu.

5. Analisis Hasil Belajar
Analisis hasil belajar merupakan suatu komponen dalam sistem proses belajar mengajar yang terdiri dari kurikulum, materi pelajaran, metode mengajar dan analisis itu sendiri, serta memberikan informasi mengenai tingkat pencapaian keberhasilan siswa.

D. UPAYA PENGENTASAN MASALAH BELAJAR
Murid yang mengalami masalah belajar perlu mendapatkan bantuan agar masalahnya tidak berlarut-larut nantinya dan siswa yang mengalami masalah belajar ini dapat berkembang secara optimal.
Menurut Prayitno (Herman dkk, 2006:159-160) masalah belajar siswa dapat dientaskan melalui :
1. Pengajaran Perbaikan
Pengajaran perbaikan merupakan suatu bentuk layanan yang diberikan kepada seseorang atau sekelompok siswa yang mengalami masalah-masalah belajar dengan maksud untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan dalam proses dan hasil belajar siswa.

2. Program Pengayaan
Kegiatan pengayaan merupakan suatu bentuk layanan yang diberikan kepada seseorang atau beberapa orang siswa yang sangat cepat dalam belajar.

3. Peningkatan Motivasi Belajar
Guru bidang studi, guru pembimbing, dan staf sekolah lainnya berkewajiban membantu siswa meningkatkan motivasi dalam belajar. Salah satunya dengan cara menyesuaikan pengajaran dengan bakat, minat, dan kemampuan.

4. Pengembangan Sikap dan Kebiasaan Belajar yang Baik
Setiap siswa diiharapkan menerapkan sikap dan kebiasaan belajar yang efektif karena prestasi belajar yang baik diperoleh melalui usaha atau kerja keras.

5. Layanan Konseling Individual
Dalam hubungan tatap muka antara konselor dengan klien (siswa) pada kegiatan konseling diupayakan adanya pengentasan masalah-masalah klien yang telah disampaikan pada konselor.

SUMBER BACAAN


Nirwana, Herman dkk. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Padang : FIP UNP

Silahkan Comments disini Gan

 
Design by Rahmat Ha Pe | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India