Masalah anak berbakat telah lama menjadi perhatian masyarakat dalam budaya mans pun. Dengan mengetahui sejarah pembinaan anak bnerbakat dapat diketahui pula hal-hal yang dilakukan orang sejak zaman dahulu terhadap anak berbakat tersebut. Catalan sejarah tentang keberbakatan oleh Reni- Akbar-Hawadi (2002) diambil dari berbagai sumber: Shertzer Bruce (1960), Hildreth (1966), Laycock (1979), Davis & Rimm (1989) serta Colangelo dan Davis (1991) sebagai
berikut:
1. Periode Abad ke-18 dan Sebelumnya
Bangsa Cina berpedoman pada ajaran Confucius (500 SM) yang menekankan pendidikan harus diberikan pada seloruh anak dalam segala lapisan tanpa memandang perbedaan kelas sosial. Anak-anak tersebut harus dididik berbeda sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Anak-anak berbakat intelektual telah dihargai tinggi. Mereka yang dengan kemampuan luar biasa (prodigies) yang berasal dah segala lapisan sosial dikirim kekerajaan untuk dilatih dan dikembangkan lebih lanjut, sesuai dengan bakat yang dimiliki. Saat itu bangsa Cina telah menerima adanya keragaman bakat, pentingnya kemampuan membaca, kemampuan kepemimpinan, kemampuan imigrasi, kemampuan membaca cepat, kemampuan ingatan, kemampuan berpikir dan kepekaan Perceptual.
Bangsa cina juga telah menyadari bahwa kemampuan anak berbakat intelektual tidak akan berkembang penuh jika tidak diberikan pendidikan khusus. Dorongan diberikan karena mereka meyakini bahwa sokongan, motivasi merupakan hat yang dianggap penting bagi anak yang dianggap lebih. Pendidikan bagi anak berbakat tidak saja untuk memenuhi kebutuhan dirinya tetapi juga untuk kepentingan kerajaan, baik karier di universitas maupun untuk menempati posisi yang bagus di kerajaan.
Demikian pula di Jepang pada pedode Tokugawa (1604), anak-anak desa yang miskin diberikan pelajaran untuk mampu bersikap setia, patuh, rendah hati dan tekun. Adapun anak-anak samurai dididik bidang studi konfusius klassik, seni, sejarah, komposisi, kaligrafi, nilai, moral dan etika. Akan tetapi, baik anak dari masyarakat yang kebanyakan maupun anak samurai yang berbakat, sama¬sama akan memperoleh pendidikan yang khusus (Anderson, 1975, dikutip Colange, 1991).
Bangsa Sparta di Yunani yang menekankan keterampilan militer merupakan hat yang sangat be-harga bagi anak laki-laki. Sejak lahir telah dilakukan seleksi dan, pada usia tujuh tahun anak lakHaki dididik dan dilatih untuk menguasai seni temper dan seni perang. Jadi keberbakatan di sini diartikan sebagai keterampilan-keterampilan bertarung dan kepentingan militer (Meyer, 1965 dalam Colangelo, 1991).
Pada bangsa Yunani, khususnya di kalangan menengah ke alas, anak laki¬laki di sekolahkan untuk dapat membaca, menulis, berhRung, sejarah, seni dan kebugaran fisik. Setelah anak meningkat besar, guru-guru profesional dipanggil ke rumah untuk memberikan bimbingan aricmatica, logika, retorika, politik, tats bahasa, budaya umum dan keterampilan berdebat.
Dalam buku . nya yang berjudul Republic, Plato memaparkan pandangannya tersendiri dalam tentang anak berbakat intelektual. Memurut plato ada tiga jenis manusia yaitu jenis emas, perak, dan jenis perunggu. Setiap jenis mempunyai perantersendiri dalam masyarakat yang berbeda satu dengan yang lain. Jenis manusia emas adalah jenis manusia unggul, yang mempunyai kelebihan ketimbang jenis lainnya sehingga dikatakan oleh Plato anak-anak dari emas ini sangat memedukan pendidikan khusus clan amat diperlukan oleh negara untuk menduduki posisi yang penting. Plato menyebutkan bahwa kemampuan lebih yang dimiliki seseorang adalah suatu gift, yakni karunia dari Tuhan yang tidak boleh disia-siakan dan karena itu periu diperhatikan khusus. Dengan menyebut sebagai gift, Plato ingin menunjukkan bahwa manusia jenis emas dapat dilahirkan dari orang tea yang berjenis Perak atau berjenis perunggu. Jadi gift bukan yang didapat dari keturunan. Oleh karena itu, menurut Plato untuk menyeleksi seseorang agar dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, faktor inteligensi dan stamina fisik lebih diutamakan dadpada status sosial.
Periode Renaisanse di Eropa (tahun 1300-tahun 1700) kita ketahui menghasilkan kesenian, arsitektur dan buku-buku yang luar biasa indahnya. Pemenntah dan masyarakat saat itu telah membedkan penghargaan kepada orang-orang yang berbakat dan kreatif. Orang-orang tersebut antara lain Michael Angelo, Leonardo da Vinci, Baccacio, Berhini dan Dante.
Demikian Pula pada abad ke-15 sampai ke-19, Oleh Sultan Mahmet dari kerajaan Ottoman-Turki. Dad sekolah kerajaan di pusat ibu kola yang disebut The Palace School di Konstantinopel, setiap tahun menyelenggarakan seleksi terhadap ratusan pemuda yang berusia 10 tahun sampai 14 tahun. Pemuda dengan kategon yang paling gagah, paling pandai dan, paling menjanjikan diantara pemuda sebayanya. Disantero di keajaan selanjutnya akan dididik selama 12 tahun, sampai 14 tahun lamanya. Mereka yang berpotensi kursi jabatan yang tinggi dalam pemerintahan.
Pada awal abad ke-18 Thomas Jefferson dari Amerika Serikat mengajukan gagasan dalam pendidikan yaitu Diffusion of Education, yang menunjukkan pada pelayanan pendidikan yang berbeda bagi setiap individu, sesuai dengan bakat yang dimilikinya. Gagasan tersebut dilandasi oleh pemikirannya bahwa seluruh manusia senarusnya memiliki kesempatan yang sama untuk mengembangkan bakat-bakat mereka yang tidak sama (DeHaan dan havighurst, 1961). Dengan gagasan ini, Jefferson mengusulkan pada kongres suatu pemyataan legislatif yang beoudul Bills of the More Geberal Diffusion of Knowlegde, yang tujuannya menyediakan dana bagi generasi muds Amerika yang dianggap berbakat untuk mendapatkan pendidikan sampai universitas.
2. Periode Abadke--19
Pada abad ke-19 dunia ilmu pengetahuan berkembang pesat. Banyak penelitian dil2kukan untuk mngetahui siapakah manusia sesungguhnya. Manusia dilihat dari berbagai sudut Pandang dan salad satunya adalah upaya untuk melihat kemampuan manusia
Dalam kaitannya dengan keberbakatan, masalah hangat yang diperten-tangkan menyangkut apakah keberbakatan tersebut merupakan suatu hal yang diperoleh secara turun temurun ataukah sesuatu yang dibentuk oleh lingkungan. Charles Darwin (1859) dianggap pakar yang memulai debat tiada henti, dalam bukunya yng berjudul The Origin of The Species. Premis dasar Darwin membuat kejutan pada zamannya dan membawa dampak sosial. Menurut Darwin, seluruh spesies tunduk dan patuh pada hukum alam di dalam waktu geologis. Ada seleksi alamiah dan yang unggul adalah yang bertahan.
Menurut Gallon, inteligensi adalah fungsi dad persepsi yang berkaitan dengan inderawi seseorang, seperti penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan dan waktu reaksi. Galton meyakini bahwa satu-satunya informasi yang sampai ke kita berkaitan dengan peristiwa luar yang tampil melalui inderawi kita bahwa semakin jelas penginderaan kita, maka semakin berbeda, semakin lugs putusan, dan kecerdasan yang dapat dilakukan (dalam Eby dan Smutny, 1990). Untuk itu konsep Galton tentang inteligensi berhubungan erat dengan tes inderawi tersebut.
berikut:
1. Periode Abad ke-18 dan Sebelumnya
Bangsa Cina berpedoman pada ajaran Confucius (500 SM) yang menekankan pendidikan harus diberikan pada seloruh anak dalam segala lapisan tanpa memandang perbedaan kelas sosial. Anak-anak tersebut harus dididik berbeda sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Anak-anak berbakat intelektual telah dihargai tinggi. Mereka yang dengan kemampuan luar biasa (prodigies) yang berasal dah segala lapisan sosial dikirim kekerajaan untuk dilatih dan dikembangkan lebih lanjut, sesuai dengan bakat yang dimiliki. Saat itu bangsa Cina telah menerima adanya keragaman bakat, pentingnya kemampuan membaca, kemampuan kepemimpinan, kemampuan imigrasi, kemampuan membaca cepat, kemampuan ingatan, kemampuan berpikir dan kepekaan Perceptual.
Bangsa cina juga telah menyadari bahwa kemampuan anak berbakat intelektual tidak akan berkembang penuh jika tidak diberikan pendidikan khusus. Dorongan diberikan karena mereka meyakini bahwa sokongan, motivasi merupakan hat yang dianggap penting bagi anak yang dianggap lebih. Pendidikan bagi anak berbakat tidak saja untuk memenuhi kebutuhan dirinya tetapi juga untuk kepentingan kerajaan, baik karier di universitas maupun untuk menempati posisi yang bagus di kerajaan.
Demikian pula di Jepang pada pedode Tokugawa (1604), anak-anak desa yang miskin diberikan pelajaran untuk mampu bersikap setia, patuh, rendah hati dan tekun. Adapun anak-anak samurai dididik bidang studi konfusius klassik, seni, sejarah, komposisi, kaligrafi, nilai, moral dan etika. Akan tetapi, baik anak dari masyarakat yang kebanyakan maupun anak samurai yang berbakat, sama¬sama akan memperoleh pendidikan yang khusus (Anderson, 1975, dikutip Colange, 1991).
Bangsa Sparta di Yunani yang menekankan keterampilan militer merupakan hat yang sangat be-harga bagi anak laki-laki. Sejak lahir telah dilakukan seleksi dan, pada usia tujuh tahun anak lakHaki dididik dan dilatih untuk menguasai seni temper dan seni perang. Jadi keberbakatan di sini diartikan sebagai keterampilan-keterampilan bertarung dan kepentingan militer (Meyer, 1965 dalam Colangelo, 1991).
Pada bangsa Yunani, khususnya di kalangan menengah ke alas, anak laki¬laki di sekolahkan untuk dapat membaca, menulis, berhRung, sejarah, seni dan kebugaran fisik. Setelah anak meningkat besar, guru-guru profesional dipanggil ke rumah untuk memberikan bimbingan aricmatica, logika, retorika, politik, tats bahasa, budaya umum dan keterampilan berdebat.
Dalam buku . nya yang berjudul Republic, Plato memaparkan pandangannya tersendiri dalam tentang anak berbakat intelektual. Memurut plato ada tiga jenis manusia yaitu jenis emas, perak, dan jenis perunggu. Setiap jenis mempunyai perantersendiri dalam masyarakat yang berbeda satu dengan yang lain. Jenis manusia emas adalah jenis manusia unggul, yang mempunyai kelebihan ketimbang jenis lainnya sehingga dikatakan oleh Plato anak-anak dari emas ini sangat memedukan pendidikan khusus clan amat diperlukan oleh negara untuk menduduki posisi yang penting. Plato menyebutkan bahwa kemampuan lebih yang dimiliki seseorang adalah suatu gift, yakni karunia dari Tuhan yang tidak boleh disia-siakan dan karena itu periu diperhatikan khusus. Dengan menyebut sebagai gift, Plato ingin menunjukkan bahwa manusia jenis emas dapat dilahirkan dari orang tea yang berjenis Perak atau berjenis perunggu. Jadi gift bukan yang didapat dari keturunan. Oleh karena itu, menurut Plato untuk menyeleksi seseorang agar dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, faktor inteligensi dan stamina fisik lebih diutamakan dadpada status sosial.
Periode Renaisanse di Eropa (tahun 1300-tahun 1700) kita ketahui menghasilkan kesenian, arsitektur dan buku-buku yang luar biasa indahnya. Pemenntah dan masyarakat saat itu telah membedkan penghargaan kepada orang-orang yang berbakat dan kreatif. Orang-orang tersebut antara lain Michael Angelo, Leonardo da Vinci, Baccacio, Berhini dan Dante.
Demikian Pula pada abad ke-15 sampai ke-19, Oleh Sultan Mahmet dari kerajaan Ottoman-Turki. Dad sekolah kerajaan di pusat ibu kola yang disebut The Palace School di Konstantinopel, setiap tahun menyelenggarakan seleksi terhadap ratusan pemuda yang berusia 10 tahun sampai 14 tahun. Pemuda dengan kategon yang paling gagah, paling pandai dan, paling menjanjikan diantara pemuda sebayanya. Disantero di keajaan selanjutnya akan dididik selama 12 tahun, sampai 14 tahun lamanya. Mereka yang berpotensi kursi jabatan yang tinggi dalam pemerintahan.
Pada awal abad ke-18 Thomas Jefferson dari Amerika Serikat mengajukan gagasan dalam pendidikan yaitu Diffusion of Education, yang menunjukkan pada pelayanan pendidikan yang berbeda bagi setiap individu, sesuai dengan bakat yang dimilikinya. Gagasan tersebut dilandasi oleh pemikirannya bahwa seluruh manusia senarusnya memiliki kesempatan yang sama untuk mengembangkan bakat-bakat mereka yang tidak sama (DeHaan dan havighurst, 1961). Dengan gagasan ini, Jefferson mengusulkan pada kongres suatu pemyataan legislatif yang beoudul Bills of the More Geberal Diffusion of Knowlegde, yang tujuannya menyediakan dana bagi generasi muds Amerika yang dianggap berbakat untuk mendapatkan pendidikan sampai universitas.
2. Periode Abadke--19
Pada abad ke-19 dunia ilmu pengetahuan berkembang pesat. Banyak penelitian dil2kukan untuk mngetahui siapakah manusia sesungguhnya. Manusia dilihat dari berbagai sudut Pandang dan salad satunya adalah upaya untuk melihat kemampuan manusia
Dalam kaitannya dengan keberbakatan, masalah hangat yang diperten-tangkan menyangkut apakah keberbakatan tersebut merupakan suatu hal yang diperoleh secara turun temurun ataukah sesuatu yang dibentuk oleh lingkungan. Charles Darwin (1859) dianggap pakar yang memulai debat tiada henti, dalam bukunya yng berjudul The Origin of The Species. Premis dasar Darwin membuat kejutan pada zamannya dan membawa dampak sosial. Menurut Darwin, seluruh spesies tunduk dan patuh pada hukum alam di dalam waktu geologis. Ada seleksi alamiah dan yang unggul adalah yang bertahan.
Menurut Gallon, inteligensi adalah fungsi dad persepsi yang berkaitan dengan inderawi seseorang, seperti penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan dan waktu reaksi. Galton meyakini bahwa satu-satunya informasi yang sampai ke kita berkaitan dengan peristiwa luar yang tampil melalui inderawi kita bahwa semakin jelas penginderaan kita, maka semakin berbeda, semakin lugs putusan, dan kecerdasan yang dapat dilakukan (dalam Eby dan Smutny, 1990). Untuk itu konsep Galton tentang inteligensi berhubungan erat dengan tes inderawi tersebut.


.jpg)
11.08
Rahmat Ha Pe