6 Okt 2010

DINAMIKA KELOMPOK

A. Pengertian Dinamika Kelompok
Dinamika Kelompok merupakan sebuah konsep yang menggambarkan proses kelompok yang selalu bergerak, berkembang dan dapat menyesuaikan diri dengan keadaan yang selalu berubah-ubah.
Dinamika kelompok merupakan sinergi dari semua faktor yang ada dalam suatu kelompok, artinya merupakan pengerahan secara serentak semua factor yang dapat digerakkan dalam kelompok itu. Dengan demikian, dinamika kelompok merupakan jiwa yang menghidupkan dan menghidupi suatu kelompok.
Dinamika kelompok digunakan untuk menyebut sejumlah teknik seperti permainan peranan, diskusi kelompok, observasi dan pemberian balikan terhadap proses kelompok , dan pengambilan keputusan kelompok, yang secara luas digunakan dalam kelompok-kelompok latihan pengembangan keterampilan hubungan antar manusia, dalam pertemuan-pertemuan dan rapat-rapat kepanitiaan.
Dinamika kelompok erat kaitannya dengan kegiatan bimbingan,menurut Shertzer dan stone (dalam tatiek, 1989: 36) mengemukakan dinamika kelompok adalah kekuatan-kekuatan yang berinteraksi dalam kelompok pada waktu kelompok melakukan kegiatan-kegiatan untuk mencapai tujuannya.
Prayitno (1995:22) mengemukakan bahwa kelompok yang baik ialah apabila kelompok itu diwarnai oleh semangat yang tinggi, kerjasama yang lancar dan mantap serta adanya saling mempercayai diantara anggota-anggotanya. Kelompok yang baik seperti itu akan terwujud apabila para anggotanya saling bersikap sebagai kawan dalam arti yang sebenarnya, mengerti dan menerima secara positif tujuan bersama, dengan kuat merasa setia kepada kelompok, serta mau bekerja keras atau bahkan berkorban untuk kelompok. Berbagai kualitas positif yang ada dalam kelompok itu “bergerak”, “bergulir” yang menandai dan mendorong kehidupan kelompok. Kekuatan yang mendorong kehidupan kelompok itu dikenal sebagai dinamika kelompok.
Factor-faktor yang dapat mempengaruhi kualitas kelompok sebagaimana digambarkan diatas adalah:
a. Tujuan dan kegiatan kelompok
b. Jumlah anggota
c. Kualitas pribadi masing-masing anggota kelompok
d. Kedudukan kelompok
e. Kemampuan kelompok dalam memenuhi kebutuhan anggota untuk saling berhubungan sebagai kawan, kebutuhan untuk diterima, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan bantuan moral, dan sebagainya.

B. Peranan dinamika kelompok dalam bimbingan kelompok dan konseling kelompok
Suasana kelompok, yaitu antar hubungan dari semua orang yang terlibat dalam kelompok, dapat merupakan wahana dimana masing-masing anggota kelompok itu (secara perorangan) dapat memanfaatkan semua informasi, tanggapan, dan berbagai reaksi dari anggota kelompok lainnya untuk kepentingan dirinya yang bersangkut paut dengan pengembangan diri anggota kelompok yang bersangkutan. Kesempatan timbal balik inilah yang merupakan dinamika dari kehidupan kelompok (dinamika kelompok) yang akan membawakan kemanfaatan bagi para anggotanya.
Melalui dinamika kelompok setiap anggota kelompok diharapkan mampu tegak sebagai perorangan yang sedang mengembangkan kediriannya dalam hubungannya dengan orang lain. Pengembangan pribadi kedirian dan kepentingan orang lain atau kelompok harus dapat saling menghidupi. Masing-masing perorangan hendaklah mampu mewujudkan kediriannya secara penuh dengan selalu mengingat kepentingan orang lain. Dalam hal ini, layanan kelompok dalam bimbingan dan konseling seharusnya menjadi tempat pengembangan sikap, keterampilan dan keberanian social yang bertenggang rasa.
Secara khusus, dinamika kelompok dapat dimanfaatkan untuk pemecahan masalah pribadi para anggota kelompok, yaitu apabila interaksi dalam kelompok itu difokuskan pada pemecahan masalah pribadi yang dimaksudkan. Dalam suasana seperti itu, melalui dinamika kelompok yang berkembang, masing-masing anggota kelompok akan menyumbang baik langsung maupun tidak langsung dalam pemecahan masalah pribadi tersebut.
C. Jenis-Jenis Kelompok
1. Kelompok Primer dan Kelompok Sekunder
Kelompok primer diwarnai oleh hubungan pribadi secara akrab dan kerjasama yang terus menerus diantara para anggotanya. Contoh: kesatuan anak-anak sepermainan, kesatuan sekelompok remaja, dan sebagainya.
Kelompok sekunder didasarkan pada kepentingan-kepentingan tertentu yang mewarnai arah kegiatan dan gerak gerik kelompok itu, seperti kelompok politik, kelompok keagamaan, kelompok para ahli pada suatu bidang. Keberadaan dan kegiatan kelompok sekunder tidak tergantung pada hubungan pribadi secara akrab meskipun hubungan antar anggota (baik langsung ataupun tidak langsung) tetap ada.
2. Kelompok Sosial dan Kelompok Psikologikal
Pada kelompok social, tujuan yang ingin dicapai biasanya tidak bersifat pribadi (impersonal), melainkan merupakan tujuan bersama untuk kepentingan bersama. Contoh: persatuan buruh.
Sedangkan pada kelompok psikologikal pada dasrnya lebih bersifat mempribadi (personal). Para anggota kelompok psikologikal memasuki kelompok itu biasanya didorong oleh kepentingan yang menyangkut hubungan antar pribadi. Contoh: himpunan para korban kebakaran.
3. Kelompok Terorganisasikan dan Kelompok Tidak Terorganisasikan
Kelompok terorganisasikan memiliki ciri utama adanya pemimpin yang mengatur dan memberi kemudahan dan mengawasi dijalankannya peranan masing-masing anggota.
Sedangkan pada kelompok yang tidak terorganisasikan para anggotanya bertindak lebih bebas, tidak saling terikat pada anggota lain, dan adanya fleksibilitas yang besar.
4. Kelompok formal dan kelompok informal
Kelompok formal terbentuk berdasarkan tujuan dan aturan tertentu yang bersifat resmi (dan tertulis). Gerak dan kegiatan kelompok diatur dan tidak boleh menyimpang dari ketentuan yang telah dibuat untuk itu. Aturan ini biasanya tertulis dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga.
Sedangkan pada kelompok informal keberadaan dan gerak gerik kelompok didasarkan pada kemauan, kebebasan dan selera orang-orang yang terlibat didalamnya.

Kelompok Dalam Layanan Bimbingan Dan Konseling Kelompok
Kelompok yang dipergunakan sebagai wadah atau wahana bagi layanan bimbingan dan konseling melalui pendekatan kelompok ialah kelompok-kelompok sekunder, psikologikal, tidak terorganisasikan dan informal. Selain itu, dalam pelaksanaan layanan Bimbingan dan Konseling melalui pendekatan kelompok, ada dua jenis kelompok yang dapat dikembangkan, yaitu kelompok bebas dan kelompok tugas.
• Kelompok bebas
Melakukan kegiatan kelompok tanpa penugasan tertentu, dan kehidupan kelompok itu memang tidak disiapkan secara khusus sebelumnya. Perkembangan yang akan timbul di dalam kelompok itulah nantinya yang akan menjadi isi dan mewarnai kehidupan kelompok itu lebih lanjut. Kelompok ini memberikan kesempatan kepada seluruh anggota kelompok untuk menentukan arah dan isi kehidupan kelompok itu.
• Kelompok tugas
Arah dan isi kegiatan kelompok ditetapkan terlebih dahulu. Kelompok tugas Pada dasarnya diberi tugas untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Kelompok bebas dapat mengubah dirinya menjadi kelompok tugas, apabila kelompok itu mengikatkan diri untuk sesuatu tugas yang ingin diselesaikan. Dinamika kelompok diarahkan untuk penyelesaian tugas itu.

D. Usaha Menggerakkan Dinamika kelompok
Dinamika kelompok harus hidup, mengarah pada tujuan yang ingin dicapai, dan membuahkan manfaat bagi masing-masing anggota kelompok. Dengan demikian, usaha yang dapat dilakukan oleh anggota kelompok untuk hal ini yaitu:
• Membantu terbinanya suasana keakraban dalam hubungan antar anggota kelompok.
• Mencurahkan segenap perasaan dalam melibatkan diri dalam kegiatan kelompok.
• Berusaha agar yang dilakukannya itu membantu tercapainya tujuan bersama.
• Membantu tersusunnya aturan kelompok dan berusaha mematuhinya dengan baik.
• Benar-benar berusaha untuk secara aktif ikut serta dalam seluruh kegiatan kelompok.
• Mampu berkomunikasi secara terbuka.
• Berusaha membantu anggota lain.
• Memberi kesempatan kepada anggota lain untuk juga menjalankan peranannya.
• Menyadari pentingnya kegiatan kelompok itu.
Usaha yang dapat dilakukan oleh pemimpin kelompok untuk menghidupkan dinamika kelompok, yaitu:
• Mempersiapkan anggota kelompok untuk peranan yang harus dimainkannya.
• Memperhatikan anggota-anggota kelompok dalam menjalani kegiatan kelompok
• Memperhatikan setiap tingkah laku (baik ucapan, tindakan, maupun isyarat) yang ditampilkan oleh setiap anggota kelompok.
• Memperhatikan keikutsertaan anggota-anggota kelompok dalam memecahkan masalah-masalah yang timbul.
• Sanggup merangsang diawalinya kegiatan-kegiatan kelompok

E. Pembentukan Anggota Kelompok
Keanggotaan kelompok dapat bersifat tidak sukarela atau sukarela. Keanggotaan dalam kelompok keluarga tertentu adalah tidak sukarela. Ada beberapa organisasi (kelompok) yang anggota-anggotanya terhimpun didalam kelompok itu atas dasar kedudukannya. Dalam kelompok seperti ini semua orang yang menduduki jabatan atau status yang dimaksud, mau tidak mau menjadi anggota dari kelompok itu. Sebaliknya, kelompok yang keanggotaannya bersifat sukarela biasanya lebih bebas dan peranan anggota lebih besar dalam menentukan gerak dan kegiatan kelompok itu.
Alasan seseorang mau memasuki suatu kelompok secara sukarela:
• Dalam kelompok dapat dicapai tujuan atau kepentingan pribadi yang penting, misalnya kedudukan dan penghargaan
• Kelompok itu menyajikan kegiatan-kegiatan yang menarik, seperti diskusi, menjelajah alam, darmawisata, olahraga, dan sebagainya.
• Dengan memasuki kelompok itu kebutuhan-kebutuhan tertentu dapat terpenuhi, seperti kebutuhan untuk memiliki dan dimiliki, kebutuhan untuk dikenal oleh orang lain, kebutuhan akan rasa aman, dan sebagainya.
DAFTAR PUSTAKA
Prayitno. 1995. Layanan Bimbingan Dan Konseling Kelompok (Dasar Dan Profil). Jakarta: Ghalia Indonesia
Romlah, tatik. 1989. Teori Dan Praktik Bimbingan Kelompok. Jakarta: Depdikbud
Http://www.wikipediabahasaindonesia.com

0 komentar:

Poskan Komentar

Saya Berharap Komentar/ kritik yang membangun oleh Rekan-rekan yang mengunjungi blog ini, Agar dapat lebih baik. Terimakasih

Silahkan Comments disini Gan

Kabar Anda Hari Ini

Loading...

 
Design by Rahmat Ha Pe | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India