27 Jul 2010

TEORI KEPRIBADIAN PSIKOANALISA (SIGMUND FREUD)

TEORI KEPRIBADIAN PSIKOANALISA
(SIGMUND FREUD)

Pada pertengahan abad ke-19, yakni pada masa awal berdirinya psikologi -ai satu disiplin ilmu yang berdiri sendiri, psikologi didominasi oleh gagasan dan upaya mempelajari elemen-elemen dasar dari kehidupan mental orang dewasa normal melalui penelitian laboratorium dengan meng­gunakan metode introspeksi. Pada masa itu tercatat satu aliran psikologi disebut psikologi strukturalisme. Tokoh psikologi strukturalisme ini adalah Wilhelm Wundt (1832-1920), seorang ahli psikologi Jerman yang mendirikan laboratorium-laboratorium psikologi pertama di Leipzig pada 1879. Karena pendirian laboratorium psikologinya (yang pertama di dunia) itu Wundt dianggap sebagai bapak psikologi modern, dan tahun 1879 dianggap sebagai tahun mulai berdirinya psikologi sebagai satu disiplin ilmu yang berdiri sendiri, terlepas dari filsafat sebagai induknya maupun dari ketergantungannya kepada ilmu-ilmu lain seperti fisiologi dan fisika. Adapun ciri-ciri dari psikologi strukturalisme Wundt itu adalah penekanannya pada analisis atas proses-proses kesadaran yang dipandang terdiri dari elemen-elemen dasar, serta upayanya menemukan hukum­-hukum yang membawahi hubungan di antara elemen-elemen kesadaran tersebut. Karena pandangannya yang elementalistik ini maka psikologi strukturalisme disebut juga psikologi elementalisme. Di samping dipandang terdiri dari elemen-elemen dasar, kesadaran, oleh Wundt dan oleh ahli psikologi lainnya pada masa itu, dipandang sebagai aspek yang utama dari kehidupan mental. Segala sesuatu atau proses yang terjadi dalam diri manusia selalu diasalkan atau dianggap bersumber pada kesadaran.
Di tengah-tengah psikologi yang memprioritaskan penelitian atas kesadaran dan memandang kesadaran sebagai aspek utama dari kehidupanmental itu muncullah seorang dokter muda dari Wina dengan gagasannya yang radikal. Dokter muda yang dimaksud adalah Sigmund Freud, yang mengemukakan gagasan bahwa kesadaran itu anyalahbagian kecil saja dari kehidupan mental, sedangkan bagian yang terbesarnya adalah justru ketaksadaran atau alam tak sadar. Freud mengibaratkan alam sadar dan tak sadar itu dengan sebuah gunung es yang terapung di mana bagian yang muncul ke permukaan air (alam sadar) jauh lebih kecil daripada bagian yang tenggelam (alam tak sadar).
i samping gagasan tersebut di atas, masih banyak gagasan besar dan penting Freud lainnya yang menjadikan ia dipandang sebagai seorang yang revolusioner dan sangat berpengaruh bukan saja untuk bidang psikologi atau psikiatri, melainkan juga untuk bidang-bidang lain yang mencakup sosiologi, antropologi, ilmu polilik, filsafat, dan kesusastraan atau kese­nian. Untuk bidang psikologi, khususnya psikologi kepribadian dan lebih khusus lagi teori kepribadian, pengaruh Freud dengan psikoanalisa yang dikembangkannya dapat dilihat dari fakta, bahwa sebagian besar teoris kepribadian modern ckilain penyusunan teorinya tentang tingkah laku (kepribadian) menganibil sebagian, atau setidaknya mempersoalkan, gagasan-gagasan Freud. Dan psikoanalisa itu sendiri, sebagai aliran yang utama dalam psikologi, memiliki teori kepribadian yang gampangnya kita sebut teori kepribadian psikoanalitik (psychoanalitic theory of personali­ty), yang dalam bagian tulisan ini akan kita babas dengan menampilkan Freud berikut beberapa gagasan pokoknya.

A. RIWAYAT HIDUP SINGKAT FREUD DAN PSIKOANALISA
Sigmund Freud dilahirkan 6 Mei 1856 dari sebuah keluarga Yahudi di Freiberg, Moravia, sebuah kota kecil di Austria (kini menjadi bagian dari Cekoslowakia). Pada saat Freud berusia 4 tahun, keluarganya mengalami kemunduran ekonomi, dan ayah Freud membawa pindah Freud sekeluarga ke kota Wina. Setelah menamatkan sekolah menengahnya di kota Wina ini, Freud masuk fakultas kedokteran Universitas Wina dan lulus sebagai dokter pada tahun 1881. Dari catatan pribadinya diketahui bahwa Freud sesungguhnya tidak tertarik untuk menjalani praktek sebagai dokter, dan lebih tertarik kepada kegiatan penelitian ilmiah. Tetapi karena desakan ekonomi keluarga, dibina bersama Martha Bernays, istrinya yang dinikahi Freud pada tahun 1886, Freud akhirnya menjalani praktek yang tidak disukainya itu. Di sela-sela waktu prakteknya Freud masih menyempatkan diri untuk melakukan kegiatan penelitian dan menulis. Adapun minat ilmiah utama Freud adalah pads neurologi, sebuah minat yang menyebabkan Freud menekuni penanganan gangguan-gangguan neurotik, k hususnya histeria.
Ketika Freud masih menjadi mahasiswa, seorang ahli saraf ternama dari Wina, Dr. Joseph Breuer, telah menggunakan metode khusus untuk menangani histeria, yakni metode hipnosis. Dengan jalan menghipnosis pasien histeria yang ditanganinya, Breuer berhasil membuktikan bahwa penyebab histeria yang diderita pasiennya itu adalah pengalaman­pengalaman traumatik tertentu dari si pasien. Salah satu kasus histeria yang paling terkenal dari Breuer adalah kasus Anna 0., yang ditangani Breuer dari tahun 1880 sampai 1882. Kurang-lebih pada waktu yang bersamaan, seorang ahli saraf terkemuka dari Rumah Sakit La Salpetriere, Paris, yakni Jean Martin Charcot, mengembangkan metode yang sama dengan yang digunakan Breuer. Dari kedua orang ini Freud belajar dan mempraktekkan metode hipnosis untuk menangani kasus-kasus histeria. Bahkan dengan Breuer, Freud sempat mengadakan kerja sama. Kerja sama mereka menghasilkan penanganan atas sejumlah kasus histeria yang dibukukan dengan judul Studien uber Hysterie (1895). Tetapi tidak lama setelah buku tersebut diterbitkan, Freud memisahkan diri serta mening­galkan metode yang digunakan oleh Breuer dan Charcot karena ia merasa tidak puss dengan prosedur dan basil yang dicapainya: Setelah mening­galkan metode hipnosis, Freud mencoba metode lain, yakni metode sugesti yang dipelajarinya dari Bernheim pada tahun 1889. Dan metode yang terakhir ini pun ternyata tidak memuaskan Freud, sehingga ia akhirnya mengembangkan dan menggunakan metode sendiri yang disebut metode asosiasi bebas (free association method). Berbeda dengan metode hipnosis yang menyadarkan diri pada anggapan bahwa pengalaman-pengalaman traumatik yang ada pada pasien histeria perlu dan hanya bisa diungkapkan dalam keadaan si pasien tidak sadar (di bawah pengaruh hipnosis), metode asosiasi bebas bertumpu pada anggapan bahwa pengalaman-pengalaman traumatik (pengalaman yang menyakitkan) yang dimiliki pasien hysteria itu bisa diungkapkan dalam keadaan sadar. (Dalam asosiasi bebas, pasin diminta untuk mengemukakan secara bebas hal-hal apa saja yang terlintas dalam pikirannya saat itu. Bagi terapeut, hal-hal hal yang kemukakan oleh pasiennya itu merupakan bahan untuk menggali dan mengungkap ingatan-ingatan atau pengalaman-pengalaman yang sifatnya traumatic dari alam tak sadar si pasien.) Hal yang penting dari pengembangan asosiasi bebas ini adalah, metode asosiasi bebas dengan prinsip atau anggapan yang mendasarinya telah membawa Freud kepada suatu kesimpulan bahwa ketaksadaran memiliki sifat dinamis, dan memegang peranan dalam ter­jadinya gangguan neurotik seperti histeria. (Di kemudian hari peranan ketaksadaran oleh Freud diperluas dan dipandang sebagai “kawasan terbesar” dari kehidupan psikis, yang di dalamnya terdapat suatu unsur atau sistem yang berisikan naluri-naluri. Dan keinginan-keinginan berasal dari naluri-naluri itu. Pads gilirannya, melalui mekanisme represi, keinginan-keinginan yang tidak atau sulit dipuaskan akan dikembalikan ke kawasan tak sadar ini, dipenjarakan bersama-sama dengan pengalaman­pengalaman tertentu yang sifatnya traumatic atau menyakitkan bagi in­dividu.) Selain itu, berbeda dengan Breuer, Charcot, Bernheim, dan terapeut-terapeut atau pars peneliti umumnya pads waktu itu, Freud mulai menempatkan data yang diperoleh dari kegiatan terapinya dalam kerangka psikologi, serta ia melihat aspek atau mekanisme yang terlibat dalam ke­jadian munculnya gangguan neurotik dari sudut psikologi, dan bukan dari sudut neurologi atau fisiologi. Dengan demikian, sejak Freud menempuh jalannya sendiri, mengembangkan gagasan dan metode terapinya sendiri, Freud sesurigguhnya tengah berada dalam usaha membangun landasan bagi ajaran psikoanalisanya yang unik; dan ternyata usahanya ini memang berhasil. Dapat dikatakan bahwa metode asosiasi bebas merupakan tong­gak yang menandai dimulainya psikoanalisa.
Di samping metode asosiasi bebas, pads periode awal dari psikoanalisa itu Freud juga mengembangkan analisis mimpi (dream analysis) atau penafsiran mimpi. Penafsiran mimpi ini diketnbangkan oleh Freud ber­dasarkan anggapannya bahwa isi mimpi merupakan simbol dari keinginan­keing;n4n atau pengalaman-pengalaman tertentu yang direpres di slam tak sadar. Dengan demikian, sebagaimana dikatakan oleh Freud, mimpi itu sendiri adalah via regia Oalan utama) menuju alam tak sadar. Artinya, melalui penafsiran atas sebuah mimpi, kits bisa mengetahui keinginan­keinginan atau pengalaman-pengalaman spa yang direpres oleh si pernim­pin di alam tak sadarnya. Itulah yang login dicapai Freud melalui penafsiran mimpi yang dikembangkannya. Adapun subjek Freud yang pertama dan sering digunakan untuk keperluan menguji ketepatgunaan metode penafsiran mimpinya tidak lain adalah dirinya sendiri. Dalam buku pertamanya yang diberi judul The Interpretation of Dreams (Die Traumdeutung, 1900), Freud menunjukkan bagaimana mimpi-mimpinya sendiri ia telah dan ia tafsirkan, sehingga daripada.nya ia memperoleh bahan yang berharga untuk memahami kehidupan psikis berikut kekuatan dan mekanisme-mekanisme yang terdapat di dalamnya. Melalui buku ini dan tiga buah buku lain yang menyusul kemudian, yang meliputi judul-judul Psychopathology of Everyday Life (1901), Three Essays on SeXuality (1905) dan Case of Dora (1905), Freud telah meletakkan dasar-dasar yang kokoh bagi psikoanalisa, sekaligus telah memperlihatkan dirinya sebagai seorang inovator yang jenius dengan gagasan-gagasan yang brilian.
Selain buku-buku tersebut di atas, masih banyak buku Freud lainnya yang menganut gagasan-gagasan brilian Freud yang tidak terbatas pada bidang psikologi dan psikopatologi, tetapi juga di bidang kebudayaan (mitologi), agama, dan kesenian khususnya kesusastraan. Buku-buku yang dimaksud antara lain Introductory Lectures on Psycho-analysis (1920), The Ego and the Id (1923), Future of an Illusion (1927), Civilization and Its Discontents (1930), New Introductory Lectures on Psycho-analysis (1933), dan An Outline of Psycho-analysis (baru diterbitkan pada tahun 1940). Kesemua buku tersebut dengan gagasan-gagasan yang termuat di dalamnya, menjadikan Freud banyak mengundang perhatian serta menarik minat sejumlah besar orang untuk mempelajari psikoanalisa dan menjadi pengikut Freud. Di antara orang-orang tersebut terdapat nama-nama terkenal seperti Alfred Adler, Carl Gustav Jung, Ernest Jones, A.A. Brill, Otto Rank, Sandor Ferenzci, dan Hans Sachs. Tetapi dua orang yang disebut terdahulu, Adler dan Jung, di kemudian hari memisahkan diri darilingkungan psikoanalisa akibat adanya perbedaan pandangan dengan Freud. Keduanya mengembangkan teori dan alirannya sendiri., Adler mengembangkan psikologi individual, sedangkan Jung mendirikan psikologi analitis. Perpisahan dengan dua orang yang diharapkan menjadi penerus dan pembela ajaran psikoanalisa ini bagi Freud merupakan suatu pukulan yang cukup hebat, sebab keduanya oleh Freud dipandang sebagai pengikut yang paling potensial dan berbakat. Akibatnya, Freud terpaksa harus menjadi pendekar tunggal dalam mengembangkan dan membela psikoanalisanya dari serangan para tokoh dan aliran psikologi lain sampai ia meninggal dunia pada tanggal 23 September 1939 di London, tempat ia melarikan diri dari kejaran pihak Nazi. Sungguhpun demikian, Freud telah berhasil menjadikan psikoanalisa satu aliran yang kuat, berpengaruh, dan tetap tegar dalam menghadapi serangan dari manapun. Di samping menunjukkan kekurangan-kekurangannya, banyaknya serangan dan upaya membongkar psikoanalisa juga menunjukkan bahwa psikoanalisa, sepeninggal pendirinya, tidak pernah diabaikan.
B. LATAR BELAKANG LAHIRNYA PSIKOANALISIS
Latar belakang lahirnya psiko analaisis adalah cabang nama yang dikembangkan oleh Sigmund Freud dan para pengikutnya sebagai studi fungsi dan prilaku psikologis manusia. Pada mulanya psikoanalisis hanya dipergenukan dalam hubungan freud saja.
Dalam psikologi aliran psikoanalisa dianggap menjadi aliran pertama yang secara sistematis mengurai kualitas-kualitas kejiwaan, beserta dinamikanya untuk menerangkan kepribadian orang dan diterapkan dalam teknik psikoterapi. aliran ini berkembang pada tahun1890 oleh Simund Freud, seorang ahli neurologi yang berhasil menemukan cara-cara pengobatan yang efektif bagi pasien-pasien yang mengalami gangguan gejala neurotik dan histeria melalui teknik pengobatan eksperimental yang disebut abreaction, sebuah kombinasi antara teknik hipnotis dengan katarsis.Freud berhasil mengembangkan teorinya dari hasil studinya mengenai histeria yang menjadi bahan tulisannya”Studies in Histeria”. Freud berhasil membuat teori keperibadian yang membagi struktur mind ke dalam tiga bagian yaitu : consciousness sebagai alam sadara , ambang sadar disebut preconsciousness dan unconsciousness sebagai alam bawah sadar . Dari ketiga aspek kesadaran, unconsciousness adalah yang paling dominan dan paling penting dalam menentukan perilaku manusia. Karena dalam unsconscious tersimpan ingatan masa kecil, energi psikis yang besar dan instink. Sedangkan Preconsciousness berperan sebagai jembatan antara conscious dan unconscious, yang berisi ingatan atau ide yang dapat diakses kapan saja. Consciousness hanyalah bagian kecil dari mind, namun satu-satunya bagian yang memiliki kontak langsung dengan realitas.
Freud mengembangkan konsep struktur mind dengan mengembangkan “mind apparatus”, yaitu yang dikenal dengan struktur kepribadian Freud dan menjadi konstruknya yang terpenting, yaitu id, ego dan super ego. Id adalah struktur paling mendasar dari kepribadian, seluruhnya tidak disadari dan bekerja menurut prinsip kesenangan, tujuannya pemenuhan kepuasan yang segera. Ego berkembang dari id, struktur kepribadian yang mengontrol kesadaran dan mengambil keputusan atas perilaku manusia. Superego, berkembang dari ego saat manusia mengerti nilai baik buruk dan moral. Superego merefleksikan nilai-nilai sosial dan menyadarkan individu atas tuntuta moral. Apabila terjadi pelanggaran nilai, superego menghukum ego dengan menimbulkan rasa salah. Ego selalu menghadapi ketegangan antara tuntutan id dan superego. Apabila tuntutan ini tidak berhasil diatasi dengan baik, maka ego terancam dan muncullah kecemasan (anxiety). Dalam rangka menyelamatkan diri dari ancaman, ego melakukan reaksi defensif /pertahanan diri. Hal ini dikenal sebagai defense mecahnism yang jenisnya bisa bermacam-macam, seperti : identifikasi, proyeksi, fiksasi, agesi regresi, represi.
Stuktur kepribadian menurut Sigmund freud
Freud berhasil mengembangkan teori kepribadian yang membagii stuktur mind menjadi 3 bahagian yaitu:
1. Alam sadar
2. Ambang sadar
3. Alam bawah sadar
Dari ketiga sapek kesadaran tersebut adalah yang paling dominan adalah alam bawah sadar dalam menentukan prilaku manusia didalam uncuisious tersimpan ingatann masa kecil, energy psikis yang besar, dan instink. Amabang sadar berperan sebagai jembatan anatara alam sadar dengan alam bawah sadar.
Dalam teori psiko analisis stuktur kepribadian manusia terbagi atas id. Ego, dan super ego.
1. id, merupakan resvoir energi psikis dan menyediakan seluruh daya untuk menjelaskan kedua system yang lain. Dalam Id ada yang dinamakan prinsip kerja, yaitu prinsip kenikmatan (pleasure prinsiple).
Didalamnya terdapat dua proses yakni : a. tindakan reflek b. proses primer
a. Tindakan reflek adalah reaksi-reaksi otomatik dan bawaan. Seperti bersin dan berkedip.
b. Proses primer adalah hal yang menyangkut suatu reaksi psikologis, yang sedikit lebih rumit dia berusaha menghentikan tegangan dengan membentuk khayalan tentang objek menghilangkan tegangan tersebut. Seperti : menyediakan kahayalan makan pada orang yang lapar
2. ego, timbul karena kebutuhan-kebutuhan organisme memerlukan transaksi-transaksi yang sesuai dengan kenyataan objektif. Perbedaan pokok antara Id dan Ego adalah bahwa Id hanya mengenal kenyataan subjektif jiwa. Sedangkan ego membedakan anatara hal-hal yang terdapat dalam batin dan hal-hal yang terdapat didunia luar.
3. superego, adalah perwujudan internal dari nilai-nilai dan cita-cita tradisional masyarakat sebagaimana yang di terangkan orang tua pada anaknya. Super ego adalah wewenang moral dari kepribadian (wasit tingkah laku).
Fungsi-fungsi pokok superego
a. merintangi implus-implus id, terutama implus-implus seksual dan agresif.
b. Mendorong ego untuk menggantikan tujuan-tujuan realitas dengan tujuan moralitas.
c. Mengajar kesempurnaan
Dinamika kepribadian
Titik hubung atau jembatan energi tubuh dan energi kepribadian adalah id serta insting-isntingnya.
1. Insting
Insting didefinisikan sebagai perwujudan psikiologis dari suatu sumber rangsangan somatic dalam yang dibawa sejak lahir. Perwujudan psikologisnya yang dinamakan hasrat sedangkan jasmaninya disebut kebutuhan. Insting mempunyai empat ciri khas :
a. Sumber
b. Tujuan
c. Objek
d. mpetus
Menurut Freud insting dapat digolongkan menjadi dua kelompok besar yakni:
> insting-insting hidup
> insting-insting mati
2. Distribusi dan penggunaan energi psikis.
Dinamika kepribadian ditentukan oleh cara energi psikis didistribusikan serta digunakan oleh id, ego, dan superego. Oleh karena jumlah energi terbatas, maka akan terjadi persaingan di ketiga system itu dalam menggunakan energi tersebut.
Dinamika kepribadian terdiri dari interaksi daya-daya pendorong kataksis-kataksis dan daya-daya penahan anti kataksis-kataksis.


3. kecemasan
Kecemasan adalah suatu keadaan tegang. Fungsi kecemasan adalah memperingatkan sang pribadi akan adanya bahaya.
Freud membedakan tiga kecemasan yakni :
1. kecemasan realitas
2. kecemasan neurotic
3. kecemasan moral / perasaan-perasaan bersalah
Dinamika kperibadian
1. id
Fungsi satu-satunya dari id adalah untuk mengusahakan segera tersalurkannya kumpulan-kumpulan energi atau ketegangan, yang dicurahkan dalam jasad oleh rangsangan-rangsangan, baik dari dalam maupun dari luar.Fungsi id ini menunaikan prinsip kehidupan yang asli atau yang pertama yang dinamakan prinsip kesenangan (pleasure principle) Id adalah dunia kenyataan yang subyektif dalam mana pengejaran kesenangan dan pencegahan penderitaan merupakan satu-satunya perbuatan yang berarti
2. ego
Kedua proses yang dilalui id untuk meredakan ketegangan, yaitu gerak-gerik impulsive dan pembentukan gambaran (pemuasan keinginan) tidak cukup untuk mencapai tujuan evolusi yang besar menuju kelangsungan dan perbiakan. Hubungan timbale balik antara seseorang dengan dunia memerlukan pembentukan suatu system rohaniah baru, yaitu ego. ego dikuasai oleh prinsip kenyataan (reality principle).
3. Super ego
Superego adalah cabang moril atau cabang keadilan dari kepribadian. Superego lebih mewakili alam ideal daripada alam nyata. Superego terdiri dari dua anak system, ego ideal dan hati nurani.
C. Perkembangan kepribadian menurut Sigmund
Tahap perkembangan kepribadian menurut freud
1. Tahap Oral (mulut)
Tahapan ini berlangsung selama 18 bulan pertama kehidupan. Mulut merupakan sumber kenikmatan utama. Dua macam aktivitas oral di sini, yaitu menggigit dan menelan makanan, merupakan prototype bagi banyak ciri karakter yang berkembang di kemudian hari. Kenikmatan yang diperoleh dari inkorporasi oral dapat dipindahkan ke bentuk-bentuk inkorporasi lain, seperti kenikmatan setelah memperoleh pengetahuan dan harta. Misalnya, orang yang senang ditipu adalah orang yang mengalami fiksasi pada taraf kepribadian inkorporatif oral. Orang seperti itu akan mudah menelan apa saja yang dikatakan orang lain.
2. Tahap Anal
Tahapan ini berlangsung antara usia 1 dan 3 tahun. Kenikmatan akan dialami anak dalam fungsi pembuangan, misalnya menahan dan bermain-main dengan feces, atau juga senang bermain-main dengan lumpur dan kesenangan melukis dengan jari.
3. Tahap Phallic
Tahapan ini berlangsung antara usia 3 dan 6 tahun. Tahap ini sesuai dengan nama genital laki-laki (phalus), sehingga meupakan daerah kenikmatan seksual laki-laki. Sebaliknya pada anak wanita merasakan kekurangan akan penis karena hanya mempunyai klitoris, sehingga terjadi penyimpangan jalan antara anak wanita dan laki-laki. Lebih lanjut, pada tahap ini anak akan mengalami Oedipus complex, yaitu keinginan yang mendalam untuk menggantikan orang tua yang sama jenis kelamin dengannya dan menikmati afeksi dari orang tua yang berbeda jenis kelamin dnegannya. Misalnya anak laki-laki akan mengalami konflik oedipus, ia mempunyai keinginan untuk bermain-main dengan penisnya. Dengan penis tersebut ia juga ingin merasakan kenikmatan pada ibunya.
4. Tahap Latency
Tahapan ini berlangsung antara kira-kira usia 6 tahun dan masa pubertas. Merupakan tahap yang paling baik dalam perkembangan kecerdasan (masa sekolah), dan dalam tahap ini seksualitas seakan-akan mengendap, tidak lagi aktif dan menjadi laten.
5. Tahap Genital
Tahapan ini berlangsung antara kira-kira dari masa pubertas dan seterusnya. Bersamaan dengan pertumbuhannya, alat-alat genital menjadi sumber kenikmatan dalam tahap ini, sedangkan kecenderungan-kecenderungan lain akan ditekan.


Sumber :
Sarwono,Prof. Dr. Sarlito. Berkenalan dengan Aliran-aliran dan Tokoh-tokoh Psikologi.Jakarta:PT Bulan Bintang.2000
Semian, Yustinus.Teori Kepribadian & Terapi Psikoanalitik Freud.Yogyakarta:Kanisius.2006

0 komentar:

Poskan Komentar

Saya Berharap Komentar/ kritik yang membangun oleh Rekan-rekan yang mengunjungi blog ini, Agar dapat lebih baik. Terimakasih

Silahkan Comments disini Gan

Kabar Anda Hari Ini

Loading...

 
Design by Rahmat Ha Pe | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India