20 Nov 2009

masalah penyesuaian diri mahasiswa di lingkungan kampus dan upaya pengentasanya

masalah penyesuaian diri mahasiswa di lingkungan kampus dan upaya pengentasanya
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan pada dasarnya bertujuan untuk membantu individu mencapai perkembangan yang optimal sesuai dengan potensi yang dimilikinya, dan melalui pendidikan dapat diwujudkan generasi muda yang berkualitas baik dalam bidang akademis, religius, maupan sosial.
Hal ini erat kaitannya dengan Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 Bab II Pasal 3 bahwa :
Pendidikan Nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, dan kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta dapat bertanggung jawab.
Sekolah sebagai salah satu lembaga pendidikan formal perlu menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas untuk mengembangkan kemampuan siswa. Untuk mewujudkan tujuan pendidikan tersebut diperlukan pendidik yang terdiri dari : guru, dosen, konselor, pamong belajar, tutor, widya swara, fasilitator, instruktur.
Pengembangan potensi mahasiswa salah satu wujudnya dapat dilihat dari pencapaian hasil belajar mahasiswa. Untuk memperoleh hasil belajar yang optimal individu dituntut untuk dapat menyesuaikan diri dengan tuntutan dimana mereka belajar. Penyesuaian diri tersebut meliputi : penyesuaian diri terhadap mata pelajaran, penyesuaian diri terhadap dosen, penyesuaian diri terhadap teman sebaya, penyesuaian diri terhadap lingkungan sekolah, dll.
Perguruan tingi merupakan salah satu lembaga pendidikan. Universitas Negeri Padang sebagai salah satu lembaga pendidikan tinggi di Indonesia mempunyai tujuan yang tercantum dalam Buku Pedoman UNP (2005:9) yaitu :

Menyiapkan peserta didik yang berilmu pengetahuan dan teknologi, berbudaya tinggi, demokrasi, dinamis, inovatif, berkesenian serta berlandasan kepada nilai-nilai ketaqwaan. Setelah melaui proses pendidikan selanjutnya mahasiswa diharapkan mampu dan professional dalam melaksanakan pelayanan kependidikan dan non kependidikan kepada masyarakat baik formal maupun non formal.

Tujuan diatas dapat diwujudkan apabila mahasiswa menjalani proses belajar mengajar dengan baik dan mengikuti materi perkulihan dengan baik. Adapun keberhasilan dan kegagalan individu dalam mengikuti pelajaran di kampus dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor internal maupun -Ikstemal. Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari dalam diri siswa itu sendiri, seperti motivasi belajar, keterampilan belajar, kondisi fisik dan Sebagainya. Faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar diri siswa seperti: dosen, mata pelajaran, tata tertib sekolah, teman sebaya, dan lingkungan sekolah.
Satu hal penting, agar dapat mengikuti proses belajar dengan baik adalah .Kemampuan individu untuk menyesuaikan diri dengan sejumlah faktor eksternal. Penyesuaian diri tersebut meliputi: penyesuaian diri terhadap guru, penyesuaian diri terhadap mata pelajaran, penyesuaian diri terhadap teman sebaya, dan penyesuaian diri terhadap lingkungan sekolah. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Sofyan S. Willis (1994:43) penyesuaian diri adalah kemampuan seseorang untuk hidup dan bergaul secara wajar terhadap lingkungannya, sehingga ia merasa puas terhadap dirinya dan terhadap lingkungannya.
Individu yang mampu menyesuaikan diri dengan baik mempunyai perkembangan sosial yang sehat dan dapat melakukan kegiatan belajar dengan nyaman. Wardani (1997) menyatakan bahwa penyesuaian diri yang positif bila individu dapat mewujudkan kesesuian, kecocokan dan keharmonisan antara dorongan pribadi dan tuntutan atau harapan lingkungan sosial sehingga terjadi perkembangan pribadi yang sehat. Orang-orang yang yang dapat menyesuiakan diri dengan baik akan mempunyai perkembangan mental yang sehat.
Senada dengan hal ini (Zakiah Dradjat:1982) menyatakan bahwa mental yang sehat adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan diri sendiri, dengan masyarakat serta lingkungan dimana ia hidup.
Kenyataan di lapangan banyak ditemukan di kampus mahasiswa tidak mampu menyesuikan diri, sehingga mengalami masalah dalam penyesuian diri, sehingga mengalami masalah penyesuian diri di kampus. Manusia dalam menyesuaikan diri kadang-kadang mengalami kegagalan, karena setiap manusia itu penuh dengan dorongan yang disebut dengan motivasi. Menurut Abu Ahmadi (2004:40) Motivasi yaitu fungsi jiwa untuk mencapai sesuatu, dan merupakan kekuatan dari dalam. Manusia juga penuh kemungkinan-kemungkinan serta berbeda pula dalam menghadapi rangsangan dari lingkungan. Individu dalam penyesuaian diri dipengaruhi oleh beberapa faktor yang menghambat tercapainya tujuan dan tidak tercapainya tujuan. Orang yang mengalami penyesuaian diri yang negatif, gagal dalam menghadapi problema, tida bisa tenang, selain itu juga merasa panik dan gugup. Hal ini dapat menyebabkan timbulnya frustasi, konfilk, maupun kecemasan. Calhount (1995:4) menyatakan bahwa kehidupan manusia tidak bisa lepas dari kesulitan yang dihadapinya, kesuliatan-kesuliatan yang mengganggu tersebut banyak yang menyebutnnya masalah. Salah satu jalan yang kita lakukan untuk mengatasinya yaitu dengan membuat perubahan dan mengadakan kompromi dari hari kehari. Hal ini lah yang disebut dengan penyesuaian diri. Tidak setiap individu dapat berasil dengan baik dalam menghadapi tantangan, bahkan banyak diantaranya mengalami hambatan, kesulitan atau tidak berhasil sama sekali. Hal tu dapat menimbulkan berbagai permasalahan yang semakin menganggu kelangsungan hidup dan perkembangan mereka. “Agar seseorang dapat menghadapi masalah dengan baik ia membutuhkan bantuan dari orang lain, sesuai dengan dimensi sosial yang dimiliki oleh manusia” Prayitno (1994:16), dimana perkembangan dimensi ini memungkinkan seseorang mampu berinteraksi, berkomunikasi, bergaul, bekerja sama, dan hidup bersama orang lain. Dimensi ini melihat bahwa manusia adalah sebagai makhluk sosial diman diantara manusia satu dengan manusia yang lainya saling tumbuh, saling mengisi, saling menemukan makna hidup, saling membutuhkan. Prayitno Selanjutnya (1994:16), mengatakan perubahan dan tantangan yang terjadi di masyarakat memberikan gambaran mengenai tuntutan terhadap perikehidupan manusia dan potensi yang ada pada diri manusia.
Kepribadian manusia tidak sama satu dengan yang lain atau disebut juga individu mempunyai ciri khas yang berbeda satu sama liannya sesuai dengan pendapat Terderman dan Miler (1988:127) bahwa individu unik, kompleks dan sulit diprediksi. Kepribadian manusia merupakan kebiasaan manusia yang terhimpun dalam dirinya untuk berinteraksi dan menyesuaiakan diri baik terhadap lingkungan maupun kepribadian diri sendiri.
Manusia dalam menyesuiakan diri kadang-kadang menghadapi kegagalan, karena setiap manusia itu penuh dengan dorongan dan kemungkinan-kemungkinan yang tidak dapat dihindari. Berbeda pula dalam mengahadapi rangsangan. Maka individu dalam menyesuaikan diri dipengaruhi oleh beberapa faktor yang mengahalangi atau menghambat tercapainya tujuan. Orang-orang yang mengalami hambatan dalam penyesuaian diri tidak tenang dan akan merasa tenang, gugup, panik. Hal ini meyebabkan timbulnya frustasi, konfilk maupun kecemasan.


Para mahasiwa mengalami masalah, perlu bimbingan sesuai dengan yang dikemukakan oleh Smith (dalam Prayitno & Erman Amti, 1999:94) menyatakan, bahwa:
Bimbingan merupakan proses layanan yang diberikan kepada individu¬individu guna membantu mereka memperoleh pengetahuan dan keterampilan-keterampilan yang diperlukan dalam membuat pilihan¬pilihan, rencana-rencana dan interpretasi-interpretasi yang diperlukan untuk menyesuaikan diri dengan baik.
Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Miller (dalam Sofyan S Willis, 1994:13) :
Bimbingan adalah proses bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman diri dan pengarahan diri yang dibutuhkan bagi penyesuaian diri secara baik dan maksimum di sekolah, keluarga, dan masyarakat.

Dari pernyataan tersebut peranan bimbingan sangat dibutuhkan agar tercapainya tujuan yang diinginkan sehigga mahasiswa dapt menjadi pribadi yang tangguh. Yusuf Gunawan (1992) mengemukakan bahwa tujuan bimbingan dan konseling adalah guna membantu individu :

1. Mengerti dirinya dan lingkungannya hal ini melliputi pengenalan kemampuan, bakat khusus, minat, cita-cita dan nilai hidup yang dimilikinya untuk perkembangan dirinya yang meliputi pengenalan lingkungan fisik, sosial dan budaya.
2. Mampu memilih, memutuskan dan merencanakan hidupnya secara bijaksana baik dalam bidang pendidikan, pekerjaan, dan sosial pribadi , termasuk dalamnya untuk membantu individu untuk memilih bidang studi, karir dan pola hidup pribadinya.
3. Mengembanmgkan kemampuan dan kesanggupanya sesuai dengan bidang studi yang dipilihnya secara maksimal.
4. Memecahkan masalah yang dihadapi secara bijaksana, bantuan ini berguna untuk menghilangkan kebiasaan-kebiasaan buruk atu sikap hidup yang menjadi sumber timbulnya masalah.
5. Mengelola aktivitas kehidupannya, mengembangkan sudut pandang dan mengambil keputusan serta mempertnggung jawabkanya.
6. Memahami dan mengarahkan diri dalam bentuk serta sikap yang sesuai dengan tuntutan dan keadaan lingkungan.

Upaya yang dilakukan guna mencapai tujuan diatas adalah dengan berfungsinya unsur penunjang yang dapat membantu mahasiswa. Salah satunya adalah Unit Pelayanan Bimbingan dan Konseling (UPBK).
Melalui unit pelayanan bimbingan dan konseling (UPBK) yang terdapat di UNP tujuan tersebut diharapkan dapat direalisasikan agar mahasiswa berkembang dengan baik sebagai individu maupun mahsiswa dan dapat menyesuaikan diri dalam llingkungan pendidikan.
B. Rumusan masalah.
Adapun rumusan makalah ini adalah:
1. Pengertian masalah.
2. Penyebab masasalah.
3. Akibat masalah yang tidak terrselesaikan.
4. Pengertian penyesuaain diri
5. Tahap-tahap penyesuaian diri.
6. Jenis-jenis penyesuain diri.
7. Faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri.
8. Ciri-ciri penyesuan diri yang baik.
9. Jenis-jenis masalah penyesuaian diri yang dihadapi oleh mahasiswa
10. Upaya pengentasan
C. Tujuan Penulisan
Untuk menabah pengetahuan penulis tentang cara penulisan karya ilmiah yang baik dan untuk memenuhi tugas mata kuliah Dasar Logika dan Karya Ilmiah dan sebagai bahan bacaan, guna menambah ilmu pengertahuan bagi yang membutuhkan.
BAB II
HAKITAT MASALAH

A. Individu dan Masalahnya
1. Pengertian Masalah
Setiap individu selalu berusaha untuk menghindari terjadinya masalah pada dirinya dan berusaha untuk mengurangi beratnya masalah yang dihadapinya itu karena dengan adanya masalah dapat mengganggu individu tersebut dalam beraktivitas sehari-hari.
Menurut Prayitno (1997) masalah adalah sesuatu yang tidak disukai adanya, menimbulkan kaesulitan bagi diri individu atau orang lain dan ingin atau perlu dihilangkan.
Purwadarminta (1982:14) menyatakan masalah adalah sesuatu yang harus dipecahkan. Sedangkan W.S Winkel (1991:14) masalah adalah sesuatu yang menghambat, merintangi serta mempersulit bagi orang dalam usahanya mencapai sesuatu.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas masalah dapat diartikan sebagai sesuatu yang dialami oleh individu sehinga menimbulkan keadaan atau kondisi yang tidak menyenangkan, selanjutnya akan berpengaruh negatif terhadap aktifitas individu dan menimbulkan upaya untuk menghilangkannya.

2. Penyebab Masalah
Masalah itu sangat komplek sekali, berbagai aspek kehidupan dapat menimbulkan masalah, demikian juga penyebab masalah itu sendiri, ada yang bersumber dari diri sendiri (internal) dan ada yang bersumber dari luar diri sendiri (eksternal). Sebagai mana disampaikan oleh Syahril dan Rizka Ahmad (1986:34-39) yaitu:
a. Penyebab masalah berasal dari diri sendiri (internal)
Penyebab masalah dari diri sendiri menyangkut segala sesuatu yang berhubungan dengan keadaan diri baik fisik maupun psikis yang selalu mengganggu perasaanya baik berupa kekurangan maupun kekuatan yang dimilikinya.
Yang teramasuk dalam kategori ini adalah :
1) Keterbatasan atau kekurangan mental, misalnya anak yang idiot, imbisil, dan sebahagianya atau yang memiliki tingakat intelegensi yang rendah.
2) Keterbatasan keadaan fisik, misalnya buta, tuli, dan adanya cacat pada bahagiana tubuh yang dapat mengangu aktifitas.
3) Ketidak seimbangan emosi, misalnya marah-marah yang meluap dan tidak beralasan, pencemburu dan sebagainya.
4) Sikap dan kebiasaan tertentu yang dapat merugikan diri sendiri, misalnya bila mengerjakan tugas hanya yang mudah saja yang sukar ditinggalkan, suka mengurung diri dan sebagainya.
5) Tidak berbakat dalam suatu bidang misalnya tidak punya bakat dan sebagianya.
b. Penyebab masalah dari luar diri (eksternal).
Penyebab yang berasal dari luar diri sendiri dibagi dalam beberapa faktor yaitu:
1) Faktor keluarga, tempat tinggal atau rumah tangga yang tidak menyenangkan misalnya: cara mendidik anak yang tidak tepat, ketidak mengertian orang tua terhadap kebutuhan anak dan sebagianya,
2) Faktor lingkungan sekolah/ lingkungan belajar. Misalnya minimnya fasilitas belajar, kurangnya professional guru mengajar, dan sarana dan prasarana yang minim serta kurikulum yang tidak jelas dan sebagianya.
3) Faktor lingkungan masyarakat. Misalnya lingkungan tempat tinggal yang tidak nyaman, banyak kriminalitas, penganguran dan sebagianya.
Ketiga faktor di atas sama-sama berpengaruh terhadap diri individu tetapi tidak dapat ditentukan faktor yang mana yang lebih kuat pengaruhnya terhadap masalah yang dihadapi. Ketiga faktor ini saling menunjang dan tidak bisa berdiri sendiri artinya permasalahan yang berasal dari dalam diri bisa jadi akan berpengaruh terhadap masalah diluar diri individu begitu pula sebaliknya.
3. Akibat Dari Masalah Yang Tidak Teratasi
Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa masalah dapat menganggu aktifitas seseorang. Masalah yang tidak diupayakan penyelesaiannya akan berakibat negatif baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Akibat yang ditimbulkan dari tidak diatasinya masalah tersebut antara lain yang dikemukakan oleh Agus Sujanto (1996:35) bahwa masalah yang tidak teratasi akan mengakibatkan timbulnya frustasi pada diri inividu. Lebih lanjut dijelaskan bahwa bermacam-macam tindakan yang dilakukan oleh individu yang frustasi antara lain adalah: agresi, psikomatis, rasionalisasi, dan regenarisasi.
Ahlsrom & Havigus (1971:131) menyatakan individu ynag tidak dapat menyelesaikan masalah akan cendenrung mencari pertahana diri dengan bertingkah laku sombong
Akhir-akhir ini tampak adanya kecenderungan peningkatan perilaku negetif yang dilakukan oleh anak-anak sekolah dan remaja, berupa perkelahian pelajar, pengeroyokan, perusakan fasilitas umum merupakan manifestasi sari berbagai masalah pribadi yang dialami oleh individu.

Syahril (1991:16) menjelaskan bahwa:
dengan membiarakan masalah tersebut begitu saja akan mengakibatkan mahasiswa menjadi patah semangat, kehilangan motivasi untuk belajar, bahkan mungkin mengakibatkan mahasiswa putus sekolah/ drop out (DO) atau mungkin akan melakukan tindakan-tindakan yang tidak dapat diterima oleh keluarga, sekolah, maupun masyarakat seperti menentang disiplin, melawan dosen/guru, membentuk geng-geng yang mengarah pada tindakan asusila atau amoral.
Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa masalah yang tidak diatasi akan berakibat negatif, karna itu upaya penanganan terhadap setiap masalah terutama yang dihadapi mahasiswa sangat penting dilakukan untuk mencegah tindakan-tindakan yang dapat mengangu ketentraman sekaligus mengupayakan keberhasilan dan kesuksesan belajar.

Bab III
HAKEKAT PENYESUAIN DIRI

A. Konsep Penyesuaian diri
1. Pengertian Penyesuaian Diri
Penyesuaian diri pada awalnya berasal dari suatu pengertian yang didasarkan pada ilmu biologi yang di utarakan oleh Charles Darwin (dalam Encarta Encyclopedia:2002).changes can improve the ability of organisms to survive, reproduce, and, in animals, raise offspring, this process is called adaptation
Samuel Sotioe (1982:65) mengemukakan bahwa:
Penyesuaian diri adalah kesangupan untuk menyesuaikan diri yang akan membawa seseorang kepada kenikmatan hidup; ia akan terhindar dari kegelisahan, kecemasan, ketidak puasan. Ia akan hidup dan bekerja dengan semangat dan penuh rasa kebahagiaan .
Senada dengan. pernyataan diatas Menurut Tri Widodo (Dalam www.infoskipsi.com:2009) Penyesuaian diri adalah kemampuan individu untuk dapat bertahan secara psikologis dalam menghadapi sesuatu yang tidak diharapkannya dengan cara mengorganisasi respon sedemikian rupa sehingga bisa mengatasi konflik
Menurut Kamus Psikologi (2001:1) penyesuaian diri berasal dari adjustment diartikan dua makna yaitu:
a) Variasi dalam kegiatan organisme untuk mengatasi suatu hambatan dan memuaskan kebutuhan-kebutuhannya.
b) Menekankan hubungan yang harmonis dengan lingkungan fisik dan sosial.

Berbeda dengan pendapat terdahulu Calhoun (1995:4) menyatakan bahwa kehidupan manusia tidak bisa lepas dari kesulitan yang dihadapinya, kesulitan-kesulitan yang mengganggu tersebut bannyak yang menyebutnnya masalah, salah satu jalan yang kita lakukan untuk mengatasinya yaitu dengan membuat perubahan dan mengadakan kompromi dari hari kehari. Hal ini lah yang disebut dengan penyesuaian diri.
Dari pengertian diatas dapat dilihat bahwa penyesuaian diri merupakan suatu kegiatan untuk memennuhi kebutuhannya dengant tetap menekankan hubungan yang hamonis dengan lingkungannya.
Firman (1992:2) mengemukakan penyesuaian diri adalah kemampuan seseorang untuk mereaksi kenyataan-kenyataan, situasi-situasi, hubungan-hubungan sosial dalam lingkungannya guna memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku. Individu yang mampu menyesuaikan diri akan siap menghadapi situasi baru serta bisa menyelaraskan dirinya sesuai dengan norma yang berlaku di lingkungan tersebut.
Selanjutnya penyesuaian diri merupakan suatu, proses yang terus menerus dalam berhubungan dengan lingkungan. Zakiah Darajad (1977:24) menjelaskan penyesuain diri adalah proses dinamika terus menerus yang bertujuan mengubah kelakuan individu guna mendapatkan hubungan yang lebih serasi antara dinnya dan lingkungannya.
Dari beberapa pengertian diatas terlihat bahwa dalam penyesuaian diri terdapat beberapa komponen yang menunjukkan bagaimana individu menyesuaikan diri. Penyesuaian diri merupakan suatu proses, proses itu dinamis, yang melibatkan mental, tingkah laku individu agar bisa diterima sesuai dengan nilal-nilai, norma-norma dan kondisi lingkungan disekitar individu.
2. Tahap penyesuaian diri
Proses penyesuaian diri dapat terdiri dari beberapa tahap dan fase tertentu. George Herbert Mead (1972) menyatakan penyesuaian diri melalui beberapa tahap-tahap yaitu play stage, game sytage, dan tahap generalized other.
Menurut Tiedeman (1988:127) penyesuaian diri terbagi menjadi 3 fase yaitu :
Fase indutuksi, reformasi, integrasi. Fase induksi yaitu dimana individu mengorganisasikan lapangan atau stimulus yang berkaitan dengan tujuan yang dicapai, reformasi yaitu dimana individu masuk dalam kelompok/ situasi yang baru dan individu merasa ragu-ragu tetapi akhirnya mengambil keputusan. fase integrasi yaitu dimana individu mersa tidak ada lagi batas antara ia dan kelompok / situasi baru

Selain pernyataan sebelumnya proses penyesuaain diri juga dikemukakan oleh Schneider (176:1984) mengtakan bahwa penyesuain diri melibatkan tiga unsur, yaitu: Motivsi, Sikap terhadap realitas, dan Pola dasar penyesuaian diri.
3. Jenis-jenis penyesuaian diri.
Dilihat dari latar belakangnya penyesuaian diri dapat di bagi menjadi beberapa bahagian. Schineiders (1984:13) menyatakan bahwa penyesuain diri dapat ditinjau dari tiga sudut pandang yaitu:
a. Penyesuan diri sebagai adaptasi.
b. Penyesuain diri sebagai bentuk konformitas (conformity), dan
c. Penyesuan diri sebagai usaha.

Tiga sudut pandang tersebut sama-sama memaknai penyesuain diri. Akan tetapi sesuai dengan istilah dan konsep masing-masing memiliki penekanan yang berbeda-beda.
Dalam melakukan penyesuian diri individu akan diharapkan dengan kendala-kendala, baik dari luar maupun dari dalam diri. Menurut singgih (2000:51) ada dua kelompok bentuk penyesuian diri yaitu:
a. Adaptif, sering dikenal orang dengan istilah adaptasi.Bentuk penyesuian diri ini lebih bersifat badani. Artinya perubahan-perubahan dalam proses badaniah untuk menyesuiakan diri terhadap lingkungan.
b. Adjustif, suatu bentuk penyesuian yang lain dimana tersangkut kehidupan psikis kita, biasanya disebut sebagai bentuk penyesuian yang adjustif ini, maka dengan sendirinya penyesuian ini berhubungan dengan tingkah laku. Sebagai mana kiita ketahui, tingkah laku manusia sebagai besar dilator belakangi oleh hal-hal psikis ini.
Berdasarkan pendapat di atas bahwa penyesuian diri terbagi dua yaitu bentuk penyesuian diri secara fisik dan secara psikis .
Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Wood Worth (dalam Gerungan, 1964:59): bahwa bentuk penyesuian diri itu juga terbagi atas dua bentuk penyesuian diri itu juga terbagi atas dua bentuk penyesuian diri yaitu:
a. Penyesuian diri autoplasis (dibentuk sendiri) : mengubah diri sendiri sesuia dengan keadan lingkungan.
b. Penyesuian diri aloplas (alo = yang lain) : mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan (keinginan) diri.
Berdasarkan pendapat mengenai bentuk penyesuian diri di atas, penyesuian diri disebut sebagai penyesuian diri “pasif” dimana kegitan kita ditentukan oleh lingkungan, dan ada yang artinya “aktif”, diman kita dipengaruhi lingkungan.


4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penyesuaian Diri
Penyesuain diri dipengeruhi oleh beberapa faktor, menurut Abu Ahmadi (1990:283) faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuian diri individu dalam belajar dapat dikelompokan menjadi dua kelompok yaitu: faktor indogin dan faktor exogin. Pendapat yang sama juga dikemukakan Hasabullah Thabrani (1994) “faktor dari dalam dan dari luar”. Akan tetapi Scheneiders (dalam Firman 2002 :28) mengelompokkan faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri sebagai berikut:
a.Kondisi fisik
1) Pengaruh Pembawaan dan Keadaan Jasmani
2)Kesehatan dan Penyakit Jasmani
b.Kondisi Psikologis.
1)Pengalaman
2)Belajar
c.Perkembangan dan Kematangan
d.Faktor Lingkungan
1)Pengaruh Rumah Tangga (Keluarga)
2)Peranan Sosial Dalam Keluarga.
3)Keanggotaan Kelompok.
4)Kekompakan keluarga
e.Penggaruh Masyarakat
f.Pengaruh Sekolah
Dari pendapat sebelumnya dapat diterangkan bawa penyesuian diri dipengaruhi oleh :
a.Kondisi fisik

1)Pengaruh Pembawaan dan Keadaan Jasmani
Pemabawaan dan keadaan jasmani sangat berpengaruh terhadap proses penyesuaia diri. Sunarto (dalam Firman, 1994:18) “mengemukakan bahwa struktur jasmani merupakan kondisi prima bagi tingkah laku”.
Namun demikian tidaklah mudah, sebab ada orang yang dapat menyesuaikan diri baik, dan ada juga orang yang sehat fisikinya namun mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri.
2)Kesehatan dan Penyakit Jasmani
Gangguan penyakit jasmaniah yang diderita oleh seseorang akan menganggu proses peyesuaian diri. Hal ini disebabkan penyakit kronis yang dapat menimbulkan kurangnva kepercayaan pada diri sendiri, ketergantungan dan perasan ingin dikasihi.
b.Kondisi Psikologis.
1)Pengalaman
Pergaulan yang menyenangkan akan menimbulkan proses penyesuaian diri yang baik, sebaliknya pergaulan yang buruk akan menimbulkan penyesuaian diri yang negatif karena pergaulan akan menjadi pengalaman yang berarti bagi individu
2)Belajar
Belajar merupakan sesuatu yang fundamental dalarn proses penyesuaian diri karena melalui proses belajar individu akan berkembang pola-pola respon yang akan membentuk kepribadianya Sebagian besar respon dan ciri-ciri keperibadian lebih banyak yang diperoleh dari proses belajar dari pada yang diperoleh secara genetik. Dalam proses penyesuaian diri belajar merupakan proses modifitkasi.
c.Perkembangan dan Kematangan.
Dalam kaitanya dengan kematangan. proses belajar menjangkau setiap aspek keperibadian dan penyesuaian diri beberapa jenis belajar yang mempengaruhi proses penyesuaian diri adalah trial and error, pengkondislan (konditiononing) pengendalian, assosiasi, hukum, dampak/pengaruh, rasioanal. Latihan pendidikan, peranan/ penentuan diri dan suasana psiokologi.
d.Faktor Lingkungan
1)Penganih Rumah Tangga (Keluarga)
Rumah atau keluarga merupakan taktor yang menentukan penyesuaian diri manusia. Terdapat beberapa karakteristik kehidupan keluarga yang mempengaruhi penyesuaian diri. Diantara karakteristik-karakteristik itu adalah kekhususan dalam konstelasi keluarga, karakter keluarga, anggota kelompok dan kekompakkan atau gangguan /perpecahan
2)Peranan Sosial Dalam Keluarga.
Lindgren (dalam Clara R, 1988:37) mengemukakan bahwa:
Struktur, peran, dan status sosial merupakan gejala yang dihasilkan dari adanva interaksi antara individu yang satu dengan individu lainnya dengan kelompok dan antar kelompok dengan kelompok.

Adanya struktur peran dan status sosial yang menyertai persepsi individu lain terhadap diri individu merupakan petunjuk bahwa seluruh teori perilaku individu dipengaruhi oleh faktor sosial. Hal ini sejalan dengan teo2ri yang dikemukakan oleh Kurt Lewin “perilaku individu merupakan fungsi dari karakteristik individu dan karakteristik lingkunganya.”
3)Keanggotaan Kelompok.
Pengaruh kehidupan keluarga, adalah bentuk tertentu dari pengaruh keanggotaan kelompok yang dimulai segera setelah anak lahir dan terus berlangsung dalam satu bentuk ke bentuk lainnya dalam sisa kehidupannya. Sebagai seorang anggota keluarga, masyarakat, kelompok persaudaraan organisasi sosial, individu selalu merupakan bagian dan beberapa kelompok, yang mempengaruhi atau menentukan gaya hidupnya, perilaku dan penyesuaian dirinya.
4)Kekompakan keluarga
Kekompakkan keluarga dapat tercipta ditandai dengan adanya integritas dan tenggang rasa yang tinggi antar anggota keluarga serta sikap positif dari orang tua.
Kondisi keluarga yang demikian dapat membuat anak menjadi lebih percaya dalam membentuk seluruh aspek dalam dirinya. Anak juga merasa bahwa dirinya mendapat dukungan kedua orang tuanya. Dalam mengahadapi masalah sehingga la menjadi tegas dan efektif dalam memecahkan masalah. Tingkat kecemasan mereka menjadi berkurang dan lebih bersikap positif serta realistis dalam memandang lingkungan dan dirinya.
Kajian yang dilakukan oleh Dickstein dan Posner ( dalam Clara R, 1988:32) membuktikan adanya hubungan yang keras antara kualitas hubungan orang tua dan anak dengan pandangan anak terhadap diri dan lingkungannya.
Paris dan Dostal (dalam Clara.R 1988:35) menyatakan perbandingan antara anak yang berasal dari keluarga yang lengkap dengan keluarga yang bercerai. Anak yang mempunyai orang tua lengkap akan mengidentifikasikan terhadap ayah dan ibunya.
e.Penggaruh Masyarakat
Kelompok keluarga memberi pengaruh besar terhadap penyesuaian diri, menunjukkan bahwa kelompok manapun termasuk lingkungan sekitar dan masyarakat dapat menimbulkan pengaruh yang sama. Berbagai penelitian ini membuktikan bahwa penyesuaian dir individu berbeda-beda menurut keanggotaan dalam suatu kelompok lainnya Pengaruh ini sangat diharapkan, karna kelompok dapat menetukan sampai sejauh mana karakteristik anggota-anggotanya.
f. Pengaruh Sekolah
Sekolah dapat diharapkan untuk menentukan atau mengkondisikian pola penyesuaian diri. Secara umum sekolah diakui sebagai medium atau lembaga yang sangat kuat untuk mempengaruhi kehidupan intelektual, sosial dan moral anak didik. Sekolah merupakan agen pendidikan yang sebagai suatu penentu dalam, penyesuaian diri sekolah tidak boleh dipandang hanya sebagai kancah intelektual. Tetapi lebih dari itu sekolahpun merengkuh aspek-aspek sosial dan moral dalam kehidupan sehari-hari dengan memberikan pengaraha-pengarah nya dalam menciptakan minat, keyakinan, sikap dan watak anak didik dari TK sampai perguruan tinggi.
5.Ciri-ciri Penyesuain Diri Yang Baik.
Penyesuian diri yang baik ditandai dengan beberapa prilaku. Treaxler (dalam firman, 1992:2) “individu yang berhasil dalam penyesuaian diri adalah yang mampu menyesuaiakan dan mengintegrasikan dengan baik” minat maaupun kemampuan dan bekerja mencapai tujuan yang ditetapkan dengan serius tanpa mengalami ketegangan.
Surya (dalam firman,1992:3) mengemukakan ada beberapa ciri-ciri penyesuaian diri yang baik :
aTidak menunjukan adanya ketegangan emosional.
b.Tidak menunjukan adanya mekanisme psikologis.
c.Tidak menunjukan adanya frustasi pribadi.
d.Memiliki pertimbangan rasional dan penghargaan diri.
e.Mampu dalam belajar.
f.Menghargai pengalaman.
g.Bersikap realistis dan objektif.

Penyesuaian diri yang baik dapat terwujud bila individu menyadari siapa dirinya dan bagaimana ia harus berprilaku yang sesuai dengan lingkunganya.Sedangkan Menurut Zakiad Daradjat (dalam Rita Angraini, 2008:38) ciri-ciri penyesuaian diri yang baik adalah:
a.Tidak menunjukan ketergantungan emosi
b.Dalam member keakraban dan bekerjasama degan orang lain.
cMampu belajar dan cakap dalam bekerja.
d.Empati dan penuh tanggung jawab
e.Punya tujuan yang terarah dan jelas
f.Bersikap realistis dan objektif
g.Memiliki pertimbangan jiwa dalam menghadapi bermacam halangan dan rintangan

B.Jenis-jenis masalah penyesuaian diri yang dihadapi oleh mahasiswa
1.Tidak dapat melaksanakan aturan umum secara baik
Ditinjau dari segi aturan yang sifatnya umum terlihat bahwa mahasiswa kadang kadang mengalami kesulitan mematuhi peraturan yang telah ada. Disini mahasiswa baru mengalami perbedana peraturan yang mendasar dimana peraturan di tempat lama berbeda dengan sekarang. Seperti kebiasan individu mengunakan pakaian yang tidak sesuai dengan peraturan, berambut gondrong, berkelahi antar sesama dan lain-lain. Mahasiswa hendaknya menyadari akan pentingnya peratuaran, oleh sebab itu peraturan harus ditekakkan bersama dengan penuh kesadaran diri.

Muhamad Surya (dalam Edy Zahari, 1996:58) mengemukakan bahwa ada beberapa faktor yang dapat mendukung terciptanya suatu kesadaran dari individu untuk melakukan aktivitas yang melibatkan semua pihak yaitu:
a.Mempunyai kualitas kepedulian dan pemahaman diantara semua pihak
b.Mempunyai konsep diri yang positif terhadap lingkungan
c.Mempunyai presepsi yang tepat terhadap semua pihak dengan aturan yang ditetapkan.
d.Terciptanya pola hubungan yang harmonis anatara pribadi sehingga memungkinkan terjadinya sentuhan antar pribadi yang memungkinkan terbentuknya kerrjasama
e.Suasana lingkungan yang kondusi, yaitu suasana lingkungan yang sedemikian rupa sehingga semua merasa aman, percaya dan puas
f.Mempunyai keterampilan berkomunikasi secara efektif, seperti keterampilan berbicara mendengarakan menyatakan, merespon dan sebagianya.

Berdasarkan pendapat tersebut terlihat bahwa mahasiswa sering mengalami permaslahan dalam penyesuain diri berkaitan dengan aturan umum yang harus dilaksanakan bersama, tergantung bagaiman diri serta llingkunnganya sehingga dapat melaksanakan aturan yang ditetapkan oleh kampus.
2.Tidak dapat mengunakan fasilitas dengan semestinya
Keterbatas fasilitas kampus kerap kali mengangu proses penyesuain diri mahasiswa sehingga mahasisawa kesulitan dalam melaksanakan tugasnya sebagai mahasiswa sehinga menimbulkan rasa malas untuk melakukan proses belajar.
3.Tidak dapat berinteraksi dengan baik
Dari pengamatan telihat bahwa mahasiswa kadang-kadang kesulitan dalam berinteraksi dengan teman yang baru dikenal termasuk yang berbeda latar belakang budayanya. Walaupun begitu sebahagian mahasiswa tidak pernah lebih menyukai bergaul dengan teman yang sama status sosial budayanya termasuk mengangap teman luar daerah tidak mau berteman akrab denagn teman dari daerah lain. Hal ini disebabkan karena adanya mahasiswa yang kadang-kadang merasa budaya dan kebiasaan teman lain tidak bisa diterapkan dalam pergaulan.
C.Upaya Individu Dalam Mengentaskan Masalah Penyesuian Diri Yang Dihadapinya.
Individu menyadari bahwa dirinya bermasalah dalam penyesuian diri, ingin segera menghilangkan masalah dirinya. Dalam mengatasi masalahnya, setiap individu memiliki cara pemecahan masalah yang berlainan satu sama lainya. Misalnya dengan cara memecahkan masalah itu dengan meminta batu an kepada orang yang dianggap dapat membantu seperti teman, guru, orang tua dan tenaga professional.
Dari eksperimen Allport dikutip oleh W.A Gerungan (1991:75)
menyatakan bahwa:
situasi sosial pada diri sendiri sudah mempunyai pengaruh tertentu terhadap kegiatan-kegiatan individu dibandingkan dengan kegiatan yang sama apabila ia dalam keadaan sendiri. Yaitu bahwa situasi kebersamaan mempunyai pengaruh menyamaratakan pendapat yang terlibat didalamnya.


Berdasarkan pendapat terdahulu dapat disimpulkan bahwa usaha yang dilakukan individu untuk mengatasi masalah dipengaruhi oleh situasi sosial yang dialami oleh individu yang bersangkutan.
Prayitno (1990) mengungkapkan bahwa 25% dari mahasiswa membicarakannya masalah yang dihadapinya kepada siapa saja, asal orang yang bersangkutan sikap penuh perhatian, dapat dipercaya, berpengetahuan dan mau membantu sedangkan orang tua dianggap sebagai orang kedua untuk membantu.
Mezzano 1971 dikutip oleh Prayitno (1987:7) mengungkapkan bahwa lebih dari 50% mahasiswa menyatakan teman sebagi orang nomor satu yang mereka percaya untuk membicarakan masalah yang mereka hadapi.
Dari beberapa kenyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa individu yang bermasalah mempunyai keraganaman dalam upaya mengentaskan masalahnya namun peran temann masih dianggap dominan dalammembantu individu. Sedangkan peran tenaga professional belum terlihat maksimal dimamfaatkan oleh mahasiswa disinilah pentingya Bimbingan dan Konseling dimasyarakatkan kepada seluruh mahasiswa dan dilaksanakan dengan sebaik mungkin, sehingga masalah yang dihadapi mahasiswa dapat dientaskan dengan baik dan professional melaui Bimbingan dan Konseling di perguruan tinggi.
D. Peranan UPBK Sebagai Unsur Penunjang Dalam Membantu Mengatasi Masalah Penyesuaia Diri Mahasiswa.
Mahasiwa yang mengalami masalah berkaitan dengan penyesuaian diri hendaknya melakukan upaya pengentasan masalah melalui orang yang professional dalam bidang kasusnya dalam pelayanan bimbingan dan konseling. Hal ini bertujuan agar masalah yang dialami oleh mahasiswa tersebut dapat tertuntaskan secara efektif, salah satu cara yang dapat ditempuh oleh mahasiswa adalah dengan mendatangi Unit Pelayanan Bimbingan dan Konseling (UPBK) yang berada di UNP sebagai salah satu unsure penunjang dalam kegiatan akademik di perguruan tinggi. UPBK yang didirikan pada tanggal 23 september 1985 sebagai salah satu unit non-struktural dilingkungan UNP, berusaha menunjang kelancaran pelaksanana tri Dharma perguruan Tinggi sehingga mahasiswa dapat menjadi orang yang sukses dalam bidang akademik, karir, sosial kemasyarakatan
Dalam proposal SP.4 UPBK (dalam skripsi edy Zahari, 2005:36) disebutkan bahwa Unit Pelayan Bimbingan dan Konseling di UNP bertujuan untuk membantu mahasiswa melalui pemberian pelayanan kepada setiap klient yang membutuhkan, baik perorangan maupun kelompok, dengan tujuan agar orang tersebut dapat:
1.Memperoleh pemahaman tentang diri sendiri da lingkungannya yang memungkinkan membuat keputusan secara bijaksana.
2.Menyusun dan mengembangkan program akademik dan atau program-program lainya sesuai dengan aspirasi dan kemampuan diri, ketentuan yang berlaku dan kondisi lingkungan yang ada.
3.Mengembangkan diri secara optimal sesuai dengan potensi dan kondisi lingkungan.
4.Mengenal dan mengembangkan keterampilan pribadi yang berguna dalam kehidupan dilingkunganya.
5.Memecahkan dan mengatasi masalah baik pribadi, sosial, belajar karir dan masalah-masalah lainya termasuk penyesuain diri.
Tujuan adanya bimbingan dan konseling bagi mahasiswa diperguruan tinggi yang dikemukakan oleh Lusioooy (1983:17) yaitu:
a.Mahasiswa dapat mengerti dan memahami dirinya sendiri dan tujuan yang ingin dicapai melalui belajar diperguruan tinggi.
b.Dapat mengetahui masalah dalam studi dan mengembil keputusan yang mengantungkan dirinya dengan memamfaatkan sumber-sumber belajar yang tersedia.
c.Dapat menyalurkan kemampuan sesuai dengan bidang studi yang dipilihnya.
d.Mempunyai kemampuan untuk mengatasi bebagai macam tantangan sekarang maupun yang akan dating dengan memiliki emosi yang stabil.
e. Membantu mereka mengetahui berbagai tugas serta peraturan perguruan tinggi tempat mereka belajar.

Proses bantua yang diberikan oleh UPBK dalam pelayanan bimbingan dan konseling tidak lepas dari kemauan individu itu sendiri guna mengentaskan permasalahanya. Prayitno dan Erman Amti (1994) mengemukakan ada lima tahap pemberian bantuan kepada individu yang bermasalah dalam penyesuian diri, kelima tahapan itu berkaitan dengan keefektifan konseling yaitu:
a.Individu tersebut menyadari bahwa dirinya bermasalah
b.Individu menyadari perlunya bantuan orang lain
c.Individu tersebut berupaya mencari orang yang dapat membantu mengatasi masalahnya.
d.Turut aktif dalam proses bantuan yang diikuti
e.Penerapan hasil-hasil konseling

Hamrin & Chilfford (1951:121) mengetakan bawa bimbingan dan konseling berguna untuk membantu individu membuat pilihan, penyesuian-penyesuian dan interpretasi-interpretasi dalam hubunganya dengan situasi tertentu.
Menurut prayitno (1997:50) bimbingan dan konseling membantu untuk individu untuk dapat mandiri dan berkembang secara optimal, yang dilaksanakan dalam rangkaian pelayanan BK 17 Plus yaitu enam bidang pengembangan BK Sembilan jenis layanandan enam kegiatan pendukung. Sehingga masalah klien dapat dientaskan dengan sebaik-baiknya.












BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Setiap roses penyesuian diri yang dilakuakan individu dalam lingkungan manapun tidak dapat dipungkiri akan mengalami berbagai hambatan dan rintangan. Individu yang lambat menyesuiakan diri adalah individu yang cenderung banyak mengalami masalah. Masalah tersebut perlu dilakukan upaya pengentasanya.
Dalam penyesuaian diri, mahasiswa mengalami masalah yang berkaitan dengan pelaksanaan aturan umum, masalah pemamfatan fasilitas, dan masalah berinteraksi antar sesame mahasiswa.
Setiap masalah yang dihadapi mahasiswa tentu perlu dilakukan upaya pengentasan baik dari dalam maupun dari luar.
Mahasiswa juga mengunakan jasa pihak-pihak yang dapat membantu mengentaskan masalah seperti teman, dan mendatangi UPBK, konselor, orang tua dan orang yang diangap bisa dipercaya dan berpengetahuan.
B.Saran
1.Hendaknya kepada pengelola UPBK memberikan penyuluhan kepada mahasiswa tentang kegunaan UPBK itu sendiri.
2.Kepada mahasiswa yang mengalami masalah dengan penyesesuain diri hendaknya membicarakan masalah tersebut kepada orang lain yang dirasa dapat membantu mengentaskan masalah yang dihadapi secepat mungkin sehinga masalah dapat diselesaikan secara optimal.

0 komentar:

Poskan Komentar

Saya Berharap Komentar/ kritik yang membangun oleh Rekan-rekan yang mengunjungi blog ini, Agar dapat lebih baik. Terimakasih

Silahkan Comments disini Gan

Kabar Anda Hari Ini

Loading...

 
Design by Rahmat Ha Pe | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India